Undergraduate Thesis Abstract..

apa yang sulit dari membuat ringkasan skripsi??
jelas!!
membuat abstraknya yang memukau,,
haa..

ini lah abstrak untuk skripsi ta,,
kalau ada yang berminat berdiskusi (cieee) imel aj saia ya,,

BUDAYA DAMAI DALAM TRADISI PACU JALUR DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI, PROVINSI RIAU

Zestadianna Adzel & Faturochman

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

 

ABSTRACT

Idea that condition of peace is recognized by the absence of wars and violence is now considered as old fashion recognition since peace is now condition that consists of many factors not only about war and violence. Scientist nowadays began to focus research about the culture of peace that applied by one society in one region, which is part of its own culture. This research is exploring about Pacu Jalur tradition (Jalur means big canoe-like ship and Pacu means Race) of Kuantan Singingi Regency in Riau Province to analyze the social-psychological aspects of people joining in this tradition that keep its people hold each other’s hand even this tradition formed as a competition. Using qualitative method and phenomenological approach, this research aims to understand what kind of peace culture that happened to be formed by that tradition. Subjects of this research consist of four categories of people in the structure of Pacu Jalur Tradition, which are partuo (people considered as the chiefs of the region), dukun jalur (person with paranormal powers), anak pacu (young men for running the Jalur at the race) and the society itself, one person from each category. This research shows what makes these people keep living in peace side by side is that this tradition provides them chances to fulfill their various needs and interactions that happen because of this tradition make their social cohesiveness stronger and finally this society is forming a pattern of consensual peace.

Keywords: Peace Culture, Pacu Jalur, Social Cohessiveness, Choice Theory

a little about peace building

Dalam Michelle (2003) dan Rene (2008) dikatakan bahwa ada dua cara yang berbeda untuk memahami peacebuilding. Pertama adalah berdasar pada dokumen “agenda untuk perdamaian” milik PBB yang mengatakan bahwa peacebuilding mencakup aktivitas yang yang berasosiasi dengan pembangunan kapasitas, rekonsiliasi, dan transformasi masyarakat, dimana peacebuilding merupakan proses jangka panjang setelah konflik mereda, atau dengan kata lain, peacebuilding merupakan fase dari proses perdamaian yang dilakukan setelah peacemaking dan peacekeeping. Pendapat yang kedua merupakan pemahaman peacebuilding menurut banyak lembaga swadaya masyarakat, peacebuilding tidak hanya merujuk pada usaha-usaha transformatif jangka panjang, tetapi peacemaking dan peacekeeping.

Definisi yang lebih operasional mengenai peacebuilding dikemukakan oleh Christie, Daniel dkk (dalam Faturrochman, 2007) di artikelnya yang berjudul “Introduction to Peace Psychology”. Peacebuilding menurut Christie dkk didesain untuk mengurangi kekerasan atau kekacauan struktural (structural violence). Definisi ini juga digunakan untuk membedakan peacebuilding dari peacemaking, dimana peacemaking dikatakan sebagai proses yang diterapkan untuk mengurangi kekerasan dan kekacauan langsung (direct violence), walaupun pada dasarnya, hubungan kedua kekacauan bersifat melingkar sehingga untuk mengetahui akar dari permasalahan-permasalahan yang muncul tersebut memerlukan integrasi proses peacebuilding dan peacemaking.

Pada dasarnya, studi mengenai peacebuilding  ini merupakan bagian dari peace psychology yang oleh MacNair (2003) diartikan secagai studi mengenai proses mental yang membawa kepada kekacauan, mencegah kekacauan, dan memfasilitasi anti kekacauan sebagaimana mempromosikan keadilan, saling menghargai, dan saling menghormati untuk semua, yang bertujuan untuk mengurangi terjadinya kekerasan dan kekacauan dan membantu memperbaiki efek psikologisnya. Sedangkan menurut Christie dkk (dalam Fatirrochman, 2007) Psikologi perdamaian berusaha untuk membangun teori dan praktik yang bertujuan untuk mencegah dan mitigasi kekacauan baik langsung maupun struktural . psikologi perdamaian lebih lanjut dikatakan disana mempromosikan manajemen tanpa kekerasan dari konflik dan diikuti dengan keadilan social, yang dibaginya menjadi peacemaking dan peacebuilding.

Peacebuilding lebih lanjut dikatakan dalam artikel tersebut adalah dilakukan dimana saja dan tidak terbatas pada suang dan waktu tertentu, serta mempunyai beberapa dimensi, seperti budaya, politik dan ekonomi. Bahkan menurut Handwarker (2000), perdamaian dimulai dari dalam diri manusia yang mempunyai kebutuhan dasar dan tingkah laku yang dimotivasi untuk mempertahankan diri serta yang berhubungan dengan pemenuhan. Dari hal tersebut muncul interpersonal peacebuilding (membangun perdamaian antar manusia) yang dianalogikan seperti membangun kembali jembatan-jembatan atau membuat hubungan antara individu dengan individu adau sekelompok individu. Sangat kecil kemungkinan untuk membangun perdamaian pada konflik yang terjadi tanpa memasuki tingkat tertentu dari kesepahaman yang baik.

Selain interpersonal, factor personal juga sangat berpengaruh, seperti yang dikatakan Handwarker sebelumnya bahwa perdamaian berawal dari dalam. Habib Chirzin dalam presentasinya yang berjudul “The Rights to Peace and Sustainable Development for Our Common Future : Strengthening Peace Generation” yang disampaikan di International Youth Forum (2008) mengatakan bahwa tidak ada perdamaian tanpa terpenuhinya hak asasi manusia, yang menjadikan terpenuhinya hak asasi manusia merupakan hal yang tidak dapat ditoleransi dalam pencapaian kondisi yang damai. Perdamaian dikatakannya dapat dinilai dengan referensi pemenuhan hak asasi manusia tersebut. Salah satu penyebab tidak terpenuhinya hak asasi manusia itu adalah kekerasan struktural (Sstructural violence).

Belajar dari permainan Halma

Masih ingat permainan halma?? Atau Chinese Checkers in English??
Permainan yang bertujuan memindahkan sekelompok pion (atau apa yah nyebutnya??) menuju seberang dan yang paling cepat berhasil memindahkannya lah yang menjadi pemenang.

Halma jelas merupakan sebuah permainan yang memerlukan strategi, meskipun kebanyakan pemainnya adalah anak-anak, tapi masih akan sangat menaraik bagi para orang dewasa untuk memainkannya, karena strategi merupakan sebuah keharusan untuk dimiliki, dan diasah oleh semua golongan usia (pembenaran karena masih sering memainkannya, hehe :-p ). Dan jelas, strategi berteman akrab dengan logika. Permainan halma adalah cara asyik untuk membuat kita berlatih membuat strategi-strategi dan logika berpikir kita. Halma membuat kita bepikir tapi dengan cara yang mengasyikkan. Think Smart,, Think Fun!! :mrgreen:

Dari langkah-langkah yang diambil seseorang dalam bermain halma, sebenarnya merefleksikan sedikit mengenai bagaimana seseorang memecahkan masalah dalam hidupnya, sehingga sedikit banyak, dapat diraba logika berpikir mereka.

Ada beberapa tipe orang yang dapat dikelompokkan berdasarkan permainan halma mereka, tentu saja ini hanya pengelompokan berdasarkan pengalaman dan pemikiran ta dalam sepak terjang ta di dunia per-halma-an,, 😆

Yang pertama : orang yang cepat beradaptasi, kemampuan beradaptasi mereka sangat baik,, atau dengan kata lain, orang yang berpikir dengan cepat,, Think Smart,, Think Fast!! Dalam bermain halma, orang ini akan sangat pintar memanfaatkan keadaan, apapun langkah lawan akan tetap menjadi langkah menguntungkan bagi mereka. Mereka tidak memikirkan strategi secara penuh dan sempurna di awal, sehingga langkah-langkah yang diambil pun tidak teratur dan sering malah menghancurkan strategi lawan, sehingga orang dengan tipe ini hampir akan selalu menjadi pemenang dalam permainan halma. Dalam dunia nyata, menurut ta, kelompok ini merupakan tipe “orang lapangan.”

Tipe kedua : Ta menyebutnya tipe “organisatoris sejati,” karena dalam permainan halmanya, tipe kedua ini memperhitungkan setiap langkahnya dan mempunyai strategi yang cukup matang dan tanpa sadar menjadi seorang perfeksionis. Namun kelemahannya, agak sulit beradaptasi jika langkah-langkah yang telah disusun dengan penuh perhitungan dikacaukan atau bahkan ditutup oleh lawannya. Dalam dunia nyata, tipe ini termasuk “orang pemikir” dan dalam permainan halma, tipe ini akan bersaing ketat dengan tipe I meskipun yang lebih sering memenangkan permainan adalah tipe I, namun disbanding tipe III maka tipe ini akan menang dengan mudah, menurut tipe ini, Think Smart,, Think Detail!!

Tipe ketiga : tipe apa adanya,, Mereka punya strategi seadanya dan tidak pula terlalu tanggap terhadap peluang yang ada, sehingga alam bermain, langkah-langkahnya mudah di tebak dan dipatahkan oleh lawan dan akan dikalahkan dengan mudah jika bertemu lawan dari tipe I dan II. Dalam dunia nyata, orang tipe ini juga terlihat sangat biasa dan hidup mereka pada umumnya datar-datar saja. Orang dengan tipe ini lebih cenderung untuk menjalani hidup apa adanya dan dengan cara yang simple pula, prinsipnya, Think Smart,, Think as it is!!

Lebih lanjut lagi, jika dideskripsikan lebih dalam, maka orang dengan tipe I lebih berorientasi keluar dimana ia bisa dengan cepat akrab dengan orang lain dan mempunyai emosi yang terbuka [mirip extrovert menurut teori Jung]. Sedangkan tipe II mempunyai logika berpikir yang berpusat pada dirinya sehingga kadang tidak memperhatikan sekitar dan melewatkan sebuah peluang karenanya. Orang tipe ini mempunyai emosi tertutup dan sulit memulai sesuatu yang baru. Orientasi orang tipe II adalah ke dalam,, namun jika ia sudah mempunyai sebuah tujuan, ia akan memvisualisasikan ke dalam pikirannya cara mencapainya dengan detail dan menjadi semangat, meski kadang menjadi terlalu focus. Bagaimana dengan tipe III?? Yah,, orangnya sangat apa adanya dan terkadang malah menjadi terkesan malas berusaha, padahal, prinsip mereka, hiduplah seperti air, mengalir mengikuti alur dan arus,,

Udah ah…. Nanti malah harus ganti judul jadi Psikologi Halma :mrgreen: 😆

psst.. i’m d 2nd type,, hoho

Hambatan Perkembangan anak

apa siyh sebenarnya yang dimaksud dengan hambatan perkembangan anak??

ingin sedikit mengulas hasil mata kuliah Hambatan Perkembangan Anak (HPA) yang diampu Bu anas niy,,

Hambatan perkembangan anak adalah manifestasi dari perilaku yang terhambat, dimana masih dalam lingkup normal dan masih bisa diluruskan,, Pengertiannya ialah Suatu hambatan perilaku yang dialami anak-anak dalam perkembangannya yang dapat berasal dari hambatan sosial, emosi, kognisi, maupun fisik,,

ada beberapa faktor yang beresiko terhadap perkembangan anak,,

yang pertama adalah FAKTOR ORGANIK, antara lain disebabkan oleh genetik, pra natal, perinatal, neurological dimentia, atau nutrisi yang kurang baik selama kehamilan. “Perinatal” adalah waktu yang sangat dekat dengan kelahiran, dan sangat penting untuk diperhatikan karena bayi baru saja keluar dari kandungan yang mana selama kandungan ia masih seperti benalu, dan ketika lahir sudah sudah harus berusaha sendiri setelah di putus tali plasentanya, ini merupakan periode kritis,, sedangkan “neurological dimentia” sangat berhubungan dengan proses kelahirannya, yakni luka yang memungkinkan terjadinya kerusakan selaput otak,,

yang kedua adalah FAKTOR SUBORDINATE, antara lain status sosial anak, intrapersonal, interpersonal, lingkungan yang kumuh, amburadul, atau bahkan drop out. yang dimaksud “status” adalah seperti hidup di daerah kumuh atau miskin dan sosialisasi yang drop out. sedangkan yang dimaksud dengan “intrapersonal” adalah kepercayaan dirinya yang kurang, IQ yang below avarage. “Interpersonal” adalah pola asuh yang tidak baik, anak disepelekan, disia-siakan, atau orang tua yang tidak harmonis.

Bentuk dari hambatan perkembangan anak itu ada 3 kategori besar,, behavior problems, behavior disorder, ama behavior maladjusting,,

First,, behavior problem

yaitu problem perilaku,, hambatan ini tidak terlihat sebagai suatu problem, tidak merugikan orang lain, namun dapat metugikan perkembangan diri si anak, dan masih dalam taraf ringan. Contoh dari hal ini adalah ngemut jempol, eating problem, makan diemut yang bikin lama banget makannya jadiny,,

second,, behavior disorders

yaitu perilaku yang menyimpang bila dibandingkan anak seusianya, yang ini sudah agak berat, karena sudah tergolong merugikan dirisendiri dan orang lain, dan perasaan terhadap gangguan sudah lebih dirasakan daripada yang problem perilaku sehingga dikatakan sudah butuh bantuan penanganan orang lain yang lebih ahli, seperti dokter,psikolog, dll. Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan pusat syaraf (contohnya conduct disorder), atau bisa juga disebabkan oleh gangguan psikis (contohnya trauma atau stress yang mengakibatkan anak mengalami school refusal).

third,, behavior maladjusting

yaitu perilaku yang keliru yang dilakukan anak-anak untuk mengatasi tuntutan dari lingkungan maupun dari dalam dirinya sendiri, juga merupakan kompensasi yang negatif, namun sifat perilaku tersebut biasanya hanya sementara dan dalam penyelesaiannya butuh bantuan seorang ahli. Hal ini dapat disebabkan oleh tuntutan yang terlalu tinggi kepada anak tersebut juga bisa dikarenakan faktor dalam diri anak itu sendiri, seperti ia merupakan individu yang belum mempunyai cara yang baik dalam penyelesaian masalah. Dapat dicontohkan dengan keadaan seorang anak yang tergolong trouble maker di kelasnya, padahal hal itu mungkin dapat diakibatkan dari tuntutan orang tuanya yang ingin anaknya menjadi peringkat pertama di kelasnya, si anak malah memenuhi tuntutan orang tua dengan menjadi penguasa di kelasnya, karena dalam pikirannya jika ia menjadi penguasa di kelasnya, maka ia bisa menjadi juara I di kelas tersebut.

Waspadai anak yang pingsan!!

Tahukah Anda??
Orang yang sering pingsan ketika upacara sebenarnya dapat mengidap spastic!!

Spastic adalah keram otak ringan, yang karena tidak tahan panas akan mengakibatkan tidak sadarkan diri. Akibat dari spastic ini akan menjadi semakin teruk (baca: parah) jika mengalami stress atau marah atau dimarahi. Namun gejalanya akan berkurang dengan istirahat yang banyak.

Spastic juga merupakan jenis cerebral palsi (see: adat dan perkembangan anak)

Jadi,, seseorang dengan spastic tidak boleh kecapekan atau diletakkan pada situasi yang penuh tension yang dapat membangkitkan emosi negatif orang tersebut. Namun bagi yang mengalaminya, jangan dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab yah..

Kemudian,, untuk para orang tua, jika anak anda sering pingsan tiba-tiba, baik ketika upacara atau tidak, jangan hanya puas dengan alasan “belum sarapan pagi” atau “Cuma kurang tidur koq”, mungkin ada kemungkinan spastic, yang meski tidak terlalu bahaya tapi lebih baik diketahui sejak dini kan??

adat dan Perkembangan anak

Ternyata tradisi pelaksanaan ritual suap-suapan di upacara adat pernikahan itu ada gunanya,,
Sangat berkaitan dengan kondisi fisik dan mental kedua mempelai,,

Yah… karena dari ritual ini akan dapat diketahui apakah mereka atau salah satu dari kedua mempelai tesebut mengidap ataxia atau tidak. Kalau ritual ini berjalan lancar, berarti bebas dari ataxia,, [terlepas dari urusan grogi-grogian dan sok malu-malu yah,, 🙂 ]

Apakah itu ataxia??

ATAXIA adalah salah satu jenis dari cerebral palsi [kerusakan otak/ada bagian otak yang tidak berkembang sebagaimana mestinya; salah satu jenis neurological impairment].

Ataxia merupakan emosional instability, yaitu kehilangan keseimbangan atau kehilangan kontrol emosi. Contoh penderita ataxia adalah seseorang yang sebenarnya memiliki otot yang tidak kaku, namun beliau tidak mampu berdiri dan jalannya cenderung tidak stabil.

Lalu apa hubungannya dengan suap-suapan??
Hehehehehe

Hubungannya adalah…
Seseorang dengan ataxia akan sangat terlihat ketika makan, karena ketika tangan menyuapkan makanan kearah mulut, tapi mulutnya malah menutup, sedangkan ketika menjauh, mulut malah membuka,,

Lagilagi Prasangka..

Indonesia memang negara yang sangat kaya,,

salah satu kekayaan Indonesesia adalah keberagaman suku dan budayanya,, sayangnya, Masyarakat Indonesia kebanyakan tidak bijak dalam menyikapi keberagaman ini.

banyak kita dengar kisah tentang pertikaian antar suku, pembantaian antar suku dan permusuhan turun temurun  antar suku-suku di Indonesia, sangat miris sekali hati ini ketika mendengarnya.

apakah yang menjadi penyebab semua itu?

jelas satu hal yang sangat mempenaruhi terjadinya hal-hal yang kejam tersebut,, yaitu prasangka,,

prasangka dengan dedengkotnya yang bernama stereotipe,,

implikasi adanya prasangka antar suku di Indonesia ini, seperti yang diprediksi memang sangat cenderung berdampak negatif.

sedikit mengenai Prasangka,,

Prasangka berkaitan dengan persepsi orang tentang kelompok lain ataupun seseorang yang terkait dengan kelompok tersebut, dan sikap ataupun evaluasi sikap serta perilakunya terhadap mereka, yang biasanya negatif (Baron & Byrne, 2004, Sears dkk, 1985, dan Walgito, 2003). Dengan kata lain, seorang yang memiliki prasangka terhadap kelompok sosial tertentu cenderung mengevaluasi anggotanya dengan cara yang sama (biasanya secara negatif) semata karena mereka anggota kelompok tersebut.

Hal yang serupa juga dikemukakan Malik (2005) Prasangka adalah sikap negatif terhadap individu atau kelompok tertentu, semata-mata karena keanggotaannya dalam kelompok tertentu. Prasangka muncul karena adanya stereotip, yang memunculkan penilaian yang tidak berdasar dan pengambilan sikap sebelum menilai dengan cermat. Akibatnya terjadi penyimpangan pandangan dari kenyataan sesungguhnya serta terjadi generalisasi.

Namun menurut Sarwono (1999, dalam Permatasari, 2006), prasangka tidak hanya bersifat negatif, namun juga ada yang bersikap positif, hanya saja prasangka positif tidak menimbulkan masalah dalam hubungan antar pribadi maupun antar kelompok, sehingga beberapa penulis menganggapnya tidak ada. Lebih lanjut dalam Sarwono (2006) dijelaskan mengenai prasangka positif ini dengan contoh prasangka masyarakat tentang kredibilitas seorang dokter sehingga proses pengobatan dapat berjalan lancar. Tetapi, yang lebih banyak beredar di masyarakat adalah prasangka negatif, sehingga dikatakan dalam Sears dkk (1985) bahwa prasangka terhadap suatu kelompok sosial ternyata merupakan jenis sikap yang secara sosial sangat merusak.

Feldman (1985) lebih menekankan prasangka sebagai penilaian yang tidak tidak didasarkan atas pembenaran yang cukup. Pendapat Feldman ini sangat mirip dengan pendapat para ahli lainnya bahwa prasangka adalah evaluasi atau penilaian negatif atau positif terhadap anggota suatu kelompok yang terutama didasarkan pada keanggotaannya dalam kelompok dan tidak perlu didasarkan pada ciri-ciri khusus dari individu. Dengan demikian, bagi Feldman, prasangka bisa positif juga.

Prasangka merupakan hal yang banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat, terutama di Indonesia yang terdiri dari beragam etnis yang mendiaminya. Prasangka antar etnis sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Prasangka etnis, menurut Allport (1955 dalam Permatasari, 2006), adalah antipati yang ditimbulkan karena terjadinya generalisasi yang salah dan tidak fleksibel terhadap suatu kelompok etnis tertentu.

pssst..

ini Buat Bab II proposal Ta,,

hehehe

Mereka lebih hebat dari kita

dsc02210.jpgsebuah pengalaman yang luar biasa bagi ta terjadi hari sabtu kemarin, tepatnya tanggal 15 Maret 2008. sebuah kesempatan untuk menyaksikan hal yang luar biasa datang dari kunjungan mata kuliah Psikologi anak dan remaja khusus yang diampu oleh bu aisah indati ke Panti sosial bina netra, dari pagi hingga siang hari di hari sabtu tersebut.

Panti Sosial Bina Netra (PSBN) adalah sebuah Unit Pelaksana Teknis daerah pada dinas sosial dalam memberikan pelayanan kesejahteraan sosial terhadap penyandang cacat netra. Tujuan dari PSBN ini adalah terbina dan terentasnya penyandang cacat netra sehingga mampu melaksanakan fungsi sosialnya dalam tatanan kehidupan dan penghidupan masyarakat. inilah sedikit penjelasan tentang PSBN.

kembali ke kunjungan ke PSBN. menjejakkan kaki di aula PSBN tempat kami akan mengadakan pertemuan formal,  kami disambut dengan alunan musik dan suara yang sangat bening dan menghibur. mangambil tempat duduk yang terdepan membuat saya lebih dapat melihat jelas kepanggung aula tersebut. Ternyata, musik yang mengalun indah dan nyanyian yang merdu berasal dari saudara-saudara kita yang tidak memiliki salah satu indra seperti yang biasanya menjadi jendela dunia bagi manusia.

banyak hal yang bisa mereka lakukan, bahkan lebih baik daripada kita,,

mereka benarbenar luar biasa!!

Pampers dan Perkembangan anak

images.jpeg

ini adalah blog yang mengeluarkan tulisan yang berasal dari hati,, dan anak-anak adalah bagian atau bahkan keseluruhan hati dari orangtuanya,,

perkembangan pada masa anak-anak sangat berarti untuk masa depan mereka, baik fisik maupun psikis mereka.

seperti yang sering dikatakan dalam iklan, masa anak-anak adalah masa emas kehidupan.

seiring dengan perkembangan zaman dan peradaban, makin banyak barang-barang yang diciptakan manusia untuk mempermudah kehidupannya,

juga bagi anak-anak, salah satunya pampers atau dalam bahasa indonesianya dikenal dengan istilah popok.

popok adalah alat yang dimaksudkan untuk memudahkan orangtua sehingga tidak terlalu sibuk untuk membersihkan ampas makanan anak-anak mereka yang belum mengerti untuk membuang sampah pada tempatnya. tapi kembali, seiring majunya zaman maka berubah jugalah nilai-nilai yang dianut oleh manusia modern ini. dahulu kala, anak adalah permata bagi orang tuanya, apapun hampir akan selalu dilakukan orangtua demi kebaikan anaknya, tapi apa yang kini terjadi? anak malah serig diabaikan oleh orang tua untuk mengejar materi yang dalam pembelaannya mereka melakukan hal itu demi kebaikan anak mereka juga, namun apakah itu memang baik? akn sangat panjang kajiannya.

dalam perkembangan anak, orang tua mempunyai peran penting yang membantu menentukan bagaimana kepribadian anaknya akan terbentuk dan membawa kehidupan mereka selanjutnya. pampers atau baby diapers ternyata mempunyai efek yang berbahaya dan jangka panjang dalam menghambat perkembangan anak. anak-anak yang telah terbiasa dari bayi hingga agak besar menggunakan pampers, akan mengalami beberapa perbedaan dari bayi-bayi lainnya, tentu saja jika pampers itu dipakai setiap saat, bukan pada saat-saat tdak berdekatan dengan toilet saja, atau dalam bepergian.

implikasi yang pertama bagi anak tentu saja yang paling mudah dilihat adalah dari aspek fisik. aspek fisik yang paling berpengaruh tentu saja bagian pinggul ke bawah, yang terkait langsung dengan penggunaan popok tersebut. banyak yang mengeluhkan cara berjalan anak mereka, yang setelah masa kecilnya dihiasi dengan penggunaan popok, ada kecendrungan bagi anak-anak tersebut berjalan dengan sedikit mengangkang atau kakinya menjadi tidak bisa merapat tapi ini mungkin bisa diatasi dengan membiasakan cara berjalan yang lebih baik sejak dini. namun saya pun belum pernah membaca mengenai cara mengatasi hal ini, mungkin ada yang bisa membantu..

yang kedua memasuki zona psikis anak tersebut. dalam menunjang perkembangan ada yang dinamakan toilet training, nah apakah toilet training itu? toilet training itu bagaimana melatih anak agar dapat menggontrol refleks otot sphincternya agar bisa bekerja denganbaik sehingga ia tidak mengalami lagi enupresis dan enkopresis. waduh,, apa pula enupresis dan enkopresis itu? hm,, yang mudahnya, dalam bahasa awamnya, enupresis itu ngompol dan enkopresis itu buang air besar sembarangan, baik disengaja atau pun diluar kendali anak tersebut.

apa hubungan popok dengan toilet training?

sangat erat.. toilet training merupakan bagian penting dari alur perkembangan anak, sedangkan popok dapat menjadi bagian dari hambatan perkembangan anak. sebuah negasi yang menarik menurutku.

anak-anak yang telah terbiasa memakai popok dari kecil di setiap saatnya akan mengalami kesukaran yang levelnya setingkat diatas anak-anak lain yang tidak terbiasa memakainya ketika dihadapkan pada tuntutan lingkungan yang mengharuskan mereka sudah bisa mengeluarkan sisasisa sari makanan dan minuman mereka ditempat yang sepantasnya. keterlambatan mereka untuk beradaptasi dengan tuntutan lingkungan yang kadang mengekang ini dinamakan sebuah hambatan, yang dampaknya tentu saja bisa panjang hingga mereka dewasa.

ada beberapa kerugian lain yang akan dialami anakanak yang orangtuanya sangat terpengaruh dengan iklan popok yang anti bocor ini. yang pertama adalah masalah iritasi pada kulit anak tersebut dan juga sebuah sikap ketergantungan yang terbentuk lebih awal dan menyesatkan. anak-anak yang telah terbiasa dengan memakai ini dakan mengalami ketergantungan yang sangat mungkin untuk mengarah menjadi hal yang patologis dalam perkembanganmereka selanjutnya.