knock..knock..

..bukan janji, tapi ini kisah tentang bukti..

Pagi ini aku terbangun oleh ketukan lembut di pintu kamarku dan aku tahu bahwa tidak ada orang yang mengetuk pintu itu. Hal ini bukan terjadi kali ini saja, sudah hampir seminggu aku terbangun karena ketukan itu. Hari pertama dan kedua kejadian ini, aku masih begitu penasaran hingga mengejar ke luar pagar, untuk memastikan siapa yang iseng mengetuk pintu kamarku sepagi ini, namun tidak ada tanda bahwa pernah ada orang yang memasuki rumahku, karena aku memang tinggal sendiri di rumah ini.

Kali ini, aku sudah terbiasa dengan ketukan ini dan begitu yakin sehingga tidak perlu mengejar pembuat ketukan misterius itu lagi. Aku beranjak ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas pagiku. Dingin air yang mengaliri badanku membuat aku merasa sangat bersemangat untuk menjalani hari ini, hari yang aku tahu pasti akan sangat menarik. Hari ini aku akan mengajukan surat pengunduran diriku, aku sudah begitu letih untuk terus berada dalam lingkaran setan ini. Aku sudah begitu muak dengan semua kebohongan yang dilakukan orang-orang dikantorku.

Setelah melalui jalan yang begitu padat dan penuh polusi, akhirnya aku merasakan kembali dinginnya ruangan kantorku, yang masih sangat sepi sepagi ini. Ku langkahkan kakiku menuju ruangan 4×4 meter tempatku menyelesaikan pekerjaanku selama ini. Sejujurnya aku sangat menyenangi ruangan ini, meja kerja kesukaanku dan kursi empuk yang membuat aku terkadang mengantuk. Ku hirup dalam-dalam aroma lavender dari pewangi ruangan favoritku, karena aku tahu aku akan merindukan suasana tenang dalam ruangan ini, aroma ini, suara PC ku yang begitu hingar dan tentu saja, pola wallpaper yang aku pilih sendiri, tapi aku tidak boleh goyah, aku sudah memutuskan untuk resign, dan aku akan melakukannya sebentar lagi….hanya sebentar lagi.

Ku lirik arloji hitam kesayanganku, sudah hampir pukul 08.00. Suara riuh rendah orang berbicara sudah mulai terdengar di luar. Ku pejamkan mata ku untuk menghadirkan imaji ruangan ini sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya, ku hirup nafas dalam-dalam. Dengan mantap ku buka mata dan melangkah keluar, menuju ruangan pimpinan.

Sedikit gugup ketika aku harus melewati lorong penuh kubikel ini, dengan teman-teman menyapa seperti biasa, ada yang sedang menikmati kopi hangat yang aromanya begitu menggoda bahkan ada yang melanjutkan tidurnya yang mungkin tadi harus terhenti dengan rutinitas jalan di pagi hari.

“tok..tok..” Kali ini aku yang membuat suara ketukan, terdengar seruan masuk dari dalam ruangan itu.

“Oh..kamu toh Rasyi? Monggo silahkan duduk..” Sapa Pak Okta, pimpinanku dengan ramah dan penuh senyum. Ku balas senyum Pak Okta dan duduk di kursi yang beliau tunjuk.
“Sebentar ya Rasyi, saya harus menyelesaikan dokumen ini segera.” Kata beliau.
“Baik pak, tidak apa-apa, silahkan saja.” Jawabku dan keheningan pun dimulai.

Pak Okta sibuk mengetik dan aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku teringat pertama kali masuk ruangan ini, persis 2 tahun yang lalu, untuk wawancara. Ketika itu aku masuk dengan sangat bersemangat dan pikiran yang penuh dengan rancangan jawaban yang kira-kira bisa membuat aku diterima disini, perusahaan multinasional bergengsi yang sangat diminati oleh banyak Fresh Graduate seperti aku saat itu. Kenangan selanjutnya dengan ruangan ini masih diliputi dengan perasaan sangat menyenangkan karena berhasil diterima mengalahkan ribuan calon karyawan yang lain dan langsung menduduki posisi Asisten Manager HRD karena pengalaman ku yang sangat banyak semasa kuliah. Di ruangan inilah aku disambut oleh Pak Okta dan Pak Vian, Manajer HRD dan Senior Asisten Manajer HRD dan diberi penjelasan mengenai tanggung jawab dan tugas yang akan aku kerjakan mulai keesokan harinya. Begitu membahagiakan…

Sudah tidak terhitung berapa kali dan berapa banyak kenanganku di ruangan ini. Bahagia, sedih, kecewa, marah, semua pernah aku rasakan disini, namun beberapa bulan terakhir ini suasana ruangan ini sangat tidak nyaman. Setelah dua tahun bekerja disini aku sudah memahami seluk beluk kantor yang sangat bergengsi ini, dan kenyataan yang aku temui di dalam gedung mewah kantor ini sangat jauh dari kemewahan visul yang dan gengsi sosial yang ditawarkan. Sistem yang berjalan di kantor ini sangat busuk, mungkin sama busuknya dengan sistem yang dijalankan di kantor pemerintahan.

Skandal demi skandal aku temui terjadi dan sudah menjadi rahasia umum di kantor ini. Bagaimana Divisi Keuangan mengelabui pajak, bagaimana Divisi Produksi mengelabui karyawan sendiri dengan mengatakan bahwa kinerja mereka belum cukup untuk menghasilkan keuntungan yang besar bagi perusahaan ini sehingga mereka tidak pantas untuk mendapatkan bonus, bagaimana Divisi CSR mengelabui masyarakat dengan memberikan banyak bantuan namun tanpa mereka sadari lingkungan mereka tinggal sudah kami kotori dengan polusi dan memberi mereka banyak bibit penyakit. Banyak hal yang membuat aku jengah dengan perusahaan ini, namun aku masih bisa bertahan hingga titik puncak ketika aku yang harus melakukan tindakan setan itu.

Kejadian menyakitkan itu ku putar ulang dalam pikiran. Ruangan ini, sekitar dua bulan yang lalu, aku dipanggil Pak Okta karena Bapak Kepala Cabang ingin bertemu denganku. Banyak dugaan yang muncul ketika aku memasuki ruangan ini dan bertemu Bapak Kepala Cabang yang masih cukup muda, dengan senyum yang membuat aku sadar bahwa beliau sangat tampan dan menarik. Namun sayang, tingkah lakunya tidak sebaik wajahnya, karena tujuan kedatangannya kesini adalah untuk menginstruksikan kepadaku agar aku merekayasa hasil penilaian kinerja karyawan tahun ini. Beliau ingin aku mengeluarkan hasil palsu untuk beberapa orang yang tidak beliau sukai, membuat penilaian kinerja mereka menjadi begitu buruk dan merekomendasikan perusahaan untuk memecat mereka agar posisi mereka kosong dan beliau bisa memasukkan beberapa keluarganya untuk menggantikan posisi tersebut. aku tidak bisa berkata apa-apa saat itu, aku hanya bisa mengangguk saat beliau mengatakan bahwa beliau akan membunuh orang tua ku di kampung jika aku tidak menuruti keinginan beliau.

Akhirnya aku melaksanakan kemauan sang Kepala Cabang dan perusahaan  pun memecat beberapa karyawan tak bersalah tersebut. Aku sangat merasa bersalah hingga suatu hari aku menemukan surat di atas meja kantorku yang berisi kebencian. Salah seorang karyawan itu sangat membenciku dan menganggap aku harus bertanggung jawab atas penderitaannya setelah ia tidak punya pekerjaan lagi, dan setelah aku membuang surat itu, aku mendengar kehebohan di luar ruanganku yang ternyata baru saja mendapatkan kabar bahwa orang yang mengirimkan aku surat itu baru saja ditemukan mati bunuh diri di lantai Basement gedung ini. Hari itulah hari pertama aku mendengar ketukan tak berwujud di pintu kamarku, tepat satu minggu yang lalu.

Saat itu aku benar-benar merasa hancur dan merasa menjadi orang paling jahat di dunia. Kejadian yang membuat aku lebih hancur lagi terjadi dua hari setelah kejadian bunuh diri itu atau sekitar 4 hari yang lalu, kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan mobil dalam perjalanan mereka mengunjungi ku.

“ehm..ehm” Ku dengar suara Pak Okta berdehem, menyadarkanku dari kilasan peristiwa-peristiwa menyakitkan itu. Aku tersenyum malu karena kedapatan melamun oleh Pak Okta, dan beliau hanya tersenyum lembut.
“Ada apa Rasyi, kamu datang kesini pagi sekali. Tidak biasanya” Kata Pak Okta membuka percakapan.
“Saya ingin mengajukan surat pengunduran diri Pak” ucapku dengan cepat sambil menyerahkan surat ke Pak Okta, ingin proses ini segera usai dan aku bisa segera merebahkan diri di kasur empuk kamarku.
“Hm..” Gumam Pak Okta, wajah beliau tidak terlihat terkejut, mungkin beliau memang sudah menduga hal ini akan terjadi, atau jangan-jangan beliau memang mengharapkan aku mengundurkan diri. Ah…. aku harus menyingkirkan pikiran-pikiran buruk ini…
“Baiklah Rasyi..” Pak Okta kembali memulai percakapan setelah selesai membaca surat pengunduran diriku. “Bapak paham kamu sedang dalam keadaan sangat tertekan dan Bapak sangat maklum jika kamu ingin menikmati waktu sendiri dan menjauh dari suasana kantor ini.” Pak Okta menghela nafas sejenak, “Surat ini Saya terima, pengunduran diri kamu juga saya terima, tapi kalau kamu sudah kuat dan ingin kembali ke sini, Bapak akan dengan senang hati menerima kamu kembali.” Kata Pak Okta yang membuat aku sedikit terharu.
“Baik Pak, terimakasih banyak atas semua bimbingan Bapak selama ini, saya mohon pamit Pak, salam buat teman-teman yang lain, saya mungkin tidak terlalu kuat untuk berpamitan ke mereka. Sekali lagi terimakasih Pak.” Ujarku sambil berdiri menyalami Pak Okta.

Aku berpamitan dan kembali keruanganku untuk mengambil barang-barangku dan kembali ke mobil, pulang…

Ku rebahkan diri di kasur setelah selesai menyantap makan siang masakanku sendiri, sendiri di rumah dan sendiri di kehidupanku, karena setelah orang tuaku meninggal, aku benar-benar sudah tidak punya keluarga lagi. Aku menikmati sore hari dengan membaca buku di halaman belakang rumah ku. Sungguh tenang. Aroma buku baru yang aku baca, aroma bunga dan bercampur dengan aroma kopi hangat membuat aku merasa nyaman dan bisa membuat aku tidak bergerak hingga berjam-jam dan malam telah datang menghampiri.

Kembali aku berbaring setelah kantuk menyerangku, aku menyusun rencana untuk memulai hidupku yang baru esok, karena memang kebiasaanku untuk menyusun rencana visual dalam pikiranku sebelum aku tidur. Besok aku berencana bertemu dengan teman semasa kuliah ku untuk membicarakan rencana kami membuka Pusat Rehabilitasi Korban Perkosaan, karena jumlahnya sudah sangat meningkat belakangan ini. Setelah puas dengan rencana yang tersusun rapi di pikiran ku, akhirnya aku dapat terlelap.

Keesokan harinya aku kembali terbangun oleh ketukan, namun kali ini aku merasa itu ketukan yang berbeda, karena tidak selembut biasanya. Ketukan ini begitu kasar dan diikuti dengan suara pintu dibuka. Aku langsung terduduk kaget karena aku tinggal sendiri di rumah, lalu siapa yang membuka pintu itu. Tidak ada oran lain yang memegang kunci rumah selain aku, bahkan pembantuku pun hanya datang jika aku ada di rumah.

“Rasyi, ini obat kamu belum diminum, diminum dulu ya, baru kamu mandi lalu sarapan” Ujar orang yang membuka pintu tadi sambil meletakkan obat disampingku. Aku tidak mengenal orang tersebut, dia berbaju seperti perawat, tetapi aku tidak sakit dan aku tidak paham bagaimana dia bisa berada di rumahku.
“Kamu siapa? Kenapa bisa masuk kekamarku?? Kamu dapat dari mana kunci rumahku?? Obat apa ini? aku tidak sakit!” Teriakku histeris ketakutan.
“Tenang Rasyi, tarik napas sayang.” Ujar orang itu lembut, “Kamu minum obat ini dulu biar tenang, ya?” lanjutnya.
“Tidak! Tidak mau! aku tidak kenal siapa anda, dan kenapa aku harus minum obat ini! Keluar dari rumahku!” kembali aku berteriak.

Tiba-tiba aku merasa seperti ada jarum yang menusuk lenganku dan setelah itu aku merasa sangat tenang, sangat damai dan kepalaku mulai terasa ringan, aku pun tidak merasa ketakutan lagi, padahal saat itu aku melihat ada orang lain yang masuk kamarku.

“Bagaimana keadaannya Sus?” Tanya orang baru tersebut.
“Masih sering histeris, tadi malam sepertinya dia mengalami mimpi yang berat lagi karena laporan REMnya mengindikasikan demikian, dia masih sangat bergantung pada obat penenang ini, jika tidak ia akan kembali histeris dan masuk kembali ke dunia khayalannya.” Jawab wanita berbaju putih yang dipanggil Sus itu.

Aku hanya bisa terbaring dan tak bisa menggerakkan anggota tubuhku. Aku hanya bisa mendengar pembicaraan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Kasihan dia Sus, kenyataan sangat berat untuk dia hadapi. Bayangkan saja, dia diperkosa oleh pimpinan kantor cabangnya dan tidak ada orang yang mau membantu dia untuk menuntut keadilan, bahkan orang tuanya saja tidak percaya padanya. Saya bukan mau membenarkan tindakannya yang akhirnya membunuh orang tuanya, Sus, hanya saja… menjadi korban perkosaan itu sangat berat tanpa harus dituduh pelacur oleh keluarga sendiri.” Kata orang asing itu.
“Iya Pak, saya tahu, itulah kenapa saya sangat intensif merawatnya, karena saya punya seorang adik yang menjadi korban pemerkosaan juga.” Kata Sus dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“oh, saya tidak tahu, maafkan saya, Suster…” Kata Pria tersebut.
Sambil berjalan keluar Suster tersebut hanya tersenyum dan berkata, ” Tidak apa-apa Pak. Rasyi beruntung ada Bapak yang selalu mengunjunginya, saya yakin Rasyi akan bisa kembali normal Pak.”
“Amiin.. Saya juga sangat yakin Sus..” Pria itu membalas senyum Suster yang kemudian menutup pintu kamar.

Aku mulai mengantuk mendengar obrolan mereka yang tidak aku mengerti. aku memejamkan mataku… namun sebelum tertidur, aku merasa seseorang membelai rambutku dengan lembut dan aku merasa kecupan di keningku dan kemudian aku mendengar ada suara pria yang berbisik….

“Aku tetap sayang kamu, Rasyi.”

-Jakarta, 18 Agustus 2011- 
originally posted in here

Labelling

Menyambung post ini, saya juga ingin membagi opini saya mengenai hal lain yang bisa menimbulkan prasangka, bukan hanya diturunkan oleh orang tua kita saja.

Beberapa waktu yang lalu saya dapat curhatan dari seorang teman yang lagi ada masalah dengan beberapa orang temannya. Mungkin sebelum saya bercerita lebih jauh, saya beri ilustrasi nya dulu ya..

Panggil saja Bunga (ini bukan cerita kriminal lho ya), dia baru pindah kantor, jadi di kantornya itu seperti kantor yang lain, pegawai baru pasti ditraining dulu dan pake sistem angkatan atau batch atau teman seperguruan atau teman sepermainan atau entahlah apa namanya lagi yang lain. Pada awal masa training, Bunga dan teman-temannya cukup akur hingga menjelang akhir masa training mereka, mulai terjadi perpecahan. Setelah masa training mereka selesai dan masing-masing sudah ditempatkan pada bagian yang sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka maka masa kebersamaan mereka pun berkurang sehingga perpecahan yang awalnya hanya bibit saja, kini mulai tumbuh dan bersemi *ini juga bukan pelajaran bercocok tanam lho* dan angkatan Bunga pun akhirnya pecah menjadi dua kubu. Suatu waktu, kantor mereka mengadakan gathering namun Bunga berhalangan hadir karena dia harus menjenguk anjingnya yang sakit. Setelah kembali dari perjalanan panjangnya *koq makin lama bahasa ilustrasi ini semakin aneh ya?* *biarin ah, yang penting pahamkaaan??* *ngomong ama cermin*, Bunga kaget karena seorang teman dekatnya *sebut saja kumbang* bercerita bahwa ada teman seangkatannya  *sebut saja Kembang* yang bertanya pada Kumbang , kira-kira begini percakapan mereka :

Kembang : “mana temen-temen lo yang lain?”

Kumbang : “ha? temen-temen gue? bukannya mereka juga temen-temen lo?”

Kembang : “eh, iya maksudnya, mana anak-anak yang lain?”

-/.-/-/.-

Long story short, percakapan itulah yang membuat Bunga sedih dan juga membuat saya berpikir miris, bagaimana persahabatan bisa retak dan pecah. Hal ini tidak hanya terjadi pada Bunga tapi saya yakin kita semua hampir pernah mengalami hal yang sama sampai ada kalimat “it’s really nice when a stranger become friend, but it hurts more when a friend become stranger.

Kembali pada perihal prasangka, bisa muncul kata-kata “temen lo” oleh Kembang adalah bukti bahwa sudah terjadi reklasifikasi, atau pengelompokan ulang yang awalnya mereka adalah satu kelompok kini, menjadi dua kelompok dan tidak dipungkiri bahwa perlakuan masing-masing anggota kelompok tersebut akan berbeda antara teman sekelompok dan teman yang berbeda kelompok dan mereka akan mulai membentuk sebuah “stereotipe” atas anggota kelompok lain.

Stereotipe inilah yang memunculkan prasangka antar kelompok dan muncullah yang disebut homogenitas outgroup dimana kita menganggap orang di luar kelompok kita itu mirip bahkan sama dalam segala hal atau yang sekarang sering dipakai adalah istilah “generalisasi.”

Dari ilustrasi diatas dan post sebelum ini, kita bisa paham bahwa prasangka tidak hanya diturunkan dari orang tua ke anak, tapi juga terbentuk karena pergaulan sosial dan kebutuhan individu akan konformitas kelompok. Identitas kelompok menjadi penentu penting dalam perjalanan hidup manusia dan biasanya mereka akan mengikuti norma kelompok di mana cara berpikir dan bertindak mereka pun akan sangat dipengaruhi oleh norma kelompok dan orang-orang dalam kelompok tersebut.

Masalah yang terjadi pada Bunga dan teman-temannya itu mungkin diawali oleh salah paham atau adanya perbedaan pendapat antara mereka yang tidak diselesaikan dengan tuntas sehingga menimbulkan perbincangan dibelakang yang hasilnya membuat polarisasi kelompok, terbentuknya kubu dalam sebuah kelompok, dan bukannya diselesaikan atau mencari jalan tengahnya, mereka tampaknya malah memperuncing perbedaan di antara mereka sehingga membuat pengambilan keputusan bersama pun semakin sulit.

Adanya prasangka yang mulai muncul antar kelompok mebuat penyatuan kembali menjadi sedikit lebih sulit, karena masing-masing anggota kelompok sadar maupun tidak sadar mulai mempercayai bahwa mereka lebih baik dari anggota kelompok yang lain. Jika prasangka antar kelompok yang diturunkan antar generasi mungkin bisa dihilangkan dengan membuka interaksi antara dua kelompok yang berprasangka agar masing-masing anggota dapat mengubah pendapat mereka tentang kelompok yang lain, maka prasangka yang muncul karena interaksi seperti yang terjadi pada Bunga mungkin bisa dihilangkan dengan bantuan pihak ketiga yang menengahi secara terbuka atau bisa juga menyusup ke dalam kelompok mereka dan secara perlahan memberikan pemahaman baru akan kelompok yang lain dan pengelompokan ulang pun mungkin bisa dilakukan sehingga istilah “temen-temen lu” tidak akan muncul lagi.

The Origin of Prejudice

When we were children, our parents used to teach us how to greet others, how to respect the older people, how to care the younger and how to interact with our peers. They share their values to us, consciously or unconsciously and we become an imitation of them…. for a while, until we are closer to our peer than to them.

As we grow older, we interact with many kinds of people. We learn about different cultures, different manners and we develop our own perspectives about something which is different from our parents’, since we grow in the different world of theirs in their youth. We face different circumstances, but what they’ve shared in our early life somekind remain strong in our mind.

Values that our parents have shared to us sometime not only in a positive term of “how to do something” but unfortunately they also passed hatred feelings and of course it influenced how we react to “things” that our parents hate.

It -from my point of view- is how the fight between two close tribe can last very long and this is how prejudice formed and kept.

Our parents taught us that “we” are different from “them” in almost everything and somehow “our” is always much better than “their”. This “we” VS “They” or “our” VS “their” prevent us to know more about “them” since our parents told us that they give very bad influences for us.

..and then come a moment where we cannot avoid “them” anymore, we have to deal with them, since they are also human and a citizen in our region. First, we always think that our parents are right in everything they told about “them”, since we hate “them”, we only look at their behaviors that fulfill our judgement and ignore what good deeds “they” have done. We entirely forget about “exception” or even “presumption of innocence”.

Luckily, the social pressure draw us closer to each other and we are forced to change our hate a little bit since we have to *for example* complete a project that really important for our futures with them and we are tired to hate every single moment we’ve shared with them. Then we start to open our narrow mind to finally see them as a unique individual, not only as a part of “bad reputation group.”

Interaction between the two groups that have strong prejudice for each other and definitely show discrimination among them is the first step to make them try to understand their differences and make them see those differences as something usual, not something to hate for.

-/.-/-/.-

Membicarakan Kepribadian Sehat

Dua minggu ini, pembahasan di kelas Pengantar Psikologi saya bersama para mahasiswa yang ganteng dan cantik, adalah mengenai Kepribadian yang sehat. Mereka bukanlah mahasiswa dengan kekhususan Psikologi, mata kuliah ini hanya sebagai penunjang karier mereka nanti, jadi saya lebih senang memberikan materi yang aplikatif bagi mereka, bisa mereka laksanakan dalam kehidupan mereka sehari-hari dan dalam tugas mereka nanti, walaupun tujuan saya sebenarnya sangat sederhana, semoga dengan belajar psikologi mereka jadi lebih mengenal diri mereka sehingga mereka bisa menggali potensi mereka dan berhasil di dunia abu-abu mereka nanti.

Kepribadian yang sehat menurut saya adalah kepribadian yang bisa beradaptasi dengan kebutuhan dirinya, tuntunan masyarakat dan keadaan lingkungannya. Adaptasi disini bukan lah secara harfiah seperti adaptasi dalam biologi, meskipun dalam proses ini kita tetap harus melakukan adaptasi secara biologis. Adaptasi yang harus dijalani oleh individu dalam kehidupan sehari-harinya sangatlah kompleks, entah itu adaptasi emosi, adaptasi tingkah laku, adaptasi pola pikir ataupun adaptasi psikis lainnya, dan kehidupan itu adalah pola-pola adaptasi yang menuntut kita untuk terus berubah agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan.

Ada banyak ahli yang mengajukan teori mengenai kepribadian, bagaimana kita memahami kepribadian seseorang, bagaimana kepribadian itu berkembang, apa struktur dari kepribadian itu dan apa ciri-ciri kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Kali ini saya memfokuskan kelas untuk membahas kepribadian yang sehat berdasarkan ahli-ahli dalam buku Psikologi Pertumbuhan Diane Schultz dengan tujuan agar para mahasiswa ini beli buku dan membaca buku tersebut karena saya mendapat bisik-bisik kalo mahasiswa di sini sangat jarang membeli buku apalagi membaca buku dan ternyata setelah saya mengumumkan tugas ini, mereka bahkan terbukti sebagian besar sangat jarang ke toko buku… #miris

Dalam buku Schultze ini, beliau mengulas mengenai beberapa model kepribadian yang sehat menurut beberapa ahli, yaitu Orang yang matang menurut Allport, Orang yang berfungsi sepenuhnya menurut Rogers, Orang yang produktif menurut Fromm, Orang yang mengaktualisasikan diri menurut Maslow, Orang yang terindividuasi menurut Jung, Orang yang mengatasi diri menurut Frankl, dan Orang yang di sini dan Kini menurut Perls. Saya membagi kelas menjadi 7 kelompok agar masing-masing kelompok mempresentasikan satu teori. Presentasi menjadi sangat menarik karena adanya benturan antara masing-masing teori tersebut sehingga kelas jadi lebih hidup dan tugas saya jadi lebih ringan karena akhirnya mereka bisa menemukan sendiri pemahaman atau “insight” yang benar dari pertentangan-pertentangan yang awalnya mereka buat sendiri. 😀

Berikut akan saya paparkan penjelasan Schultze mengenai teori-teori tersebut :

Orang yang matang menurut Allport adalah orang yang memiliki intensi-intensi kepada masa depan, fokus pada kesadaran, tidak tenggelam pada masa lalu, berorientasi pada masa kini dan masa depan, cenderung meningkatkan tegangan diri untuk terus mencapai yang lebih, memiliki persepsi yang obyektif dan sadar jika ada tanggung jawab kepada orang lain, tidak hanya memikirkan diri sendiri.

Orang yang berfungsi sepenuhnya menurut Rogers  adalah orang yang memiliki dorongan untuk terus mengaktualisasikan dirinya sehingga akan terus meningkatkan tegangan dalam dirinya sebagai respon agar terus mengembangkan diri, fokus pada kesadaran, tidak tenggelam dalam kejadian masa lalu atau obsesi masa depan namun sangat berorientasi pada “saat ini” dan memiliki persepsi yang subyektif, namun Roger tidak menjelaskan mengenai tanggung jawab kepada orang lain. Dalam teori Rogers juga ada yang disebut dengan unconditional positive regards dan client-centered therapy. Unconditional Positive Regards menjadi syarat utama kepribadian yang sehat menurut Rogers, dimana hal ini memberikan seseorang perasaan bahwa ia adalah orang yang berharga dalam semua hal dan juga bisa menghargai orang lain. Konsep Client-centered therapy milik Rogers memberikan fokus kepada “Klien” untuk perlahan mengubah kepribadian mereka, bahwa mereka lah yang bisa membantu dirinya, sehingga tidak ada ketergantungan pada therapistnya.

Orang yang produktif menurut Fromm adalah orang yang menjadikan produktivitas sebagai pendorong diri utamanya dan juga fokus kepada kesadaran meskipun juga menekankan pada pengalaman masa lalu yang berpengaruh pada hal-hal masa kininya. Orang yang produktif ini memahami tanggung jawabnya kepada orang lain dan memiliki persepsi yang obyektif. Teori ini tidak menjelaskan apakah peningkatan atau penurunan tegangan yang menjadi dorongan utama seseorang mengambil sikap tertentu.

Orang yang mengaktualisasikan dirinya menurut Maslow adalah orang yang sudah memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar dan menengahnya sehingga ia bisa mulai mengambil tingkah laku yang menggambarkan bahwa ia menuju tahap pengaktualisasian dirinya. Teori ini sangat terkenal, terutama dengan Hierarki kebutuhan milik Maslow sehingga ketika sampai pada diskusi mengenai kepribadian yang sehat menurut Maslow, ada sedikit perdebatan yang muncul karena konsep “aktualisasi diri” yang sangat terkenal dan terkadang penggunaannya pun salah. Orang teraktualisasi menurut teori ini mempunyai fokus pada kesadarannya dan tidak menekankan pada pengalaman masa lalunya karena yang terpenting adalah masa kini. Orang yang teraktualisasi selalu cenderung untuk meningkatkan tegangan dalam diri mereka dan menganggap peranan dan tujuan dari pekerjaan mereka itu sangat penting. Persepsi mereka bersifat obyektif dan mereka juga memahami bahwa mereka juga harus bertanggung jawab atas sikap mereka sebagai bagian dari tanggung jawab mereka kepada orang lain.

Orang yang terindividuasi menurut Jung memilki dorongan untuk merealisasikan dirinya namun tidak dijelaskan bahwa ia cenderung untuk menurunkan atau meningkatkan ketegangan dalam dirinya. Teori ini memfokuskan pada alam bawah sadar dan kesadaran secara seimbang, tidak seperti psikoanalisa milik Freud yang sangat fokus pada alam bawah sadar. Teori ini mengenal alam bawah sadar kolektif yang menjadi dasar kepribadian individu dan mengatur seluruh tingkah laku sekarang sehingga menjadi hal yang paling berpengaruh dalam kepribadian. Masa lalu dan masa depan dianggap sama berpengaruhny dalam menentukan tingkah laku masa kini. Namun sayang teori ini tidak menjelaskan mengenai tegangan diri dan peranan dari pekerjaan, tujuan bagi individu dan tanggung jawab pada orang lain.

Orang yang mengatasi diri menurut Frankl mempunyai dorongan untuk memberi arti pada hidupnya dan fokus pada kesadaran dan lebih memberikan tekanan pada masa lampau dan masa depan dibanding pada masa lalu. Orang dengan kepribadian sehat menurut teori ini cenderung untuk mencari cara agar dapat meningkatkan tekanan dalam dirinya dan peranan pekerjaan dan tujuan-tujuannya menjadi memiliki peran yang penting dalam perkembangan kepribadian. Tanggung jawab juga diperlukan dalam hal ini walaupun tidak dijelaskan sifat persepsinya.

Orang yang di sini dan kini menurut Perls adalah orang yang fokus pada kesadaran dan tidak menganggap masa lalu dan masa depan sebagai hal yang begitu penting dalam menentukan tingkah laku di masa kini. Peranan  pekerjaan dan tujuan tidak ada namun sifat persepsinya obyektif. Teori ini sangat terkenal pada saat Perls masih hidup karena dia adalah contoh nyata orang dengan kepribadian di sini dan kini, namun setelah Perls meninggal tidak ada yang dianggap dapat menjadi pemimpin teori ini lagi. Hal yang sangat kontroversial dari teori ini adalah bagaimana Perls mengajarkan bahwa orang dengan kepribadian sehat cenderung menjadi tidak mengindahkan orang lain, karena yang diajarkan adalah urusanku adalah urusan ku dan urusan mu adalah urusan mu.

Sangat menarik jika kita membicarakan mengenai ciri-ciri kepribadian yang sehat. Menurut saya, ciri-ciri ini tetap harus disesuaikan dengan budaya di sekitar individu sehingga harus ada adaptasi kembali. Inilah yang juga menjadi perbincangan ketika diskusi, “apakah hal ini bisa kita jadikan standar di Indonesia?”

-Insight-

It’s been a while since my last post. I could’ve said that i was kinda busy at the moment, even it’s the truth, i wouldn’t make it an excuse for my laziness to write something here, even just a “HI” or any kind of “Happy blablabla”. Yes, my bad, I’m sorry.

I was thinking, in a long time that i was losing my appetite to write, i’ve lost my passion, but when i talk to my self, i know that it’s not true. Writing is always my best escape route. For some moment, i was questioning my purpose in writing, in posting my mind to this personal paradise of mine, it is my own ego or it is my stupidity? since clearly there aren’t anyone really into reading this blog. Those questions keep wandering in my mind, haunting me like a nightmare and make me afraid, very afraid to start writing again and my mind become so messy and dusty. I feel like I’ve lost sight of my life, i’ve lost my self. It is when I finally conclude that I write for my self, as my own therapy to help me become me, to keep my self from being somebody else that I am not. Yes, i write for my self, not to entertain anyone, but I will still be so pleased if someone read my pieces.

All this time of “hibernating”, I learnt something about my self that i keep denying it all this time. I’m lacking of self-motivation. I believe that I could motivate others, especially somebody who close to me, but I always deny the fact that i can’t motivate my self enough to really care about my dream, i keep questioning my own passion, my own strength that even others can see it in me. Yes, what a pity!

Ah, I think I have to apply my advices to my self and this time, I have to be really strict to my priorities, focus on my dreams and trust my self, stop depending to others and stop procrastinating! Yes, I have to write it here for reminding me that i have promises to fulfill.

another insight from a delay flight

#1 “Fear to overcome”

I found an interesting feature of wordpress that help you to get some ideas to write, and it’s kinda challenge me to write about those stuffs.

There are 3 things they chose to ask me, i’ll answer it post by post so that they could tell that they are really succeed with this feature!

🙂

First..

Share a fear that you’re working to overcome.

Fear!

Based on David R. Saliba,  A Psychology of Fear: The Nightmare Formula of Edgar Allan Poe book, Fear is the emotional response to the perception of an alternating loss of control and regaining of control.  [Lantham, MD: University Press of America, 1980].

In this site, Fear described as one of the primary emotions, together with joy, anger, and grief. And accompanied by a series of physiological changes produced by the autonomic nervous system and adrenal glands, including increased heart rate, rapid breathing, tenseness or trembling of muscles, increased sweating, and dryness of the mouth.

While stated in Wikipedia, fear is a distressing negative sensation induced by a perceived threat. It is a basic survival mechanism occurring in response to a specific stimulus, such as pain or the threat of danger. In short, fear is the ability to recognize danger leading to an urge to confront it or flee from it (also known as the Fight or Flight response) but in extreme cases of fear (terror) a freeze or paralysis response is possible.

From all the descriptions above, i will use the term Fear for its psychological meaning. Fear that I need to fight now is my fear of failing.

Yes. I fear to fail so that i never truly make efforts to done something that i really need to conquer my future.

I have a big plan for my future but i’m afraid to make a move because i’m afraid of failing. I need to overcome this as soon as possible, because that something I have to done for my plan, it’s better to start soon due to the very short deadline.

I am now organizing my plan, making a to do list, and start to done “small thing first” and i found those things very useful to overcome my fear of failing. Those actions is making me so busy that i barely have time to feel the fear anymore, but I’m still working on it.

wish me luck! *finger cross*

bangsat!

“wah, apa kabar lu Njing?”

“gila lu nge’! udah sukses aja lu sekarang ya”

“eh Nyet, lama banged lu gue tunggu-tunggu nggak datang-datang, gue kepret juga lu boy!”

“emang setan tu orang ya, gua sumpahin mandul tujuh turunan dah!”

“heh kunyuk, anjing, jadi juga lu keterima disana ya, selamat ya! bangsat, keren juga lu!”

honestly people, why do these nicknames mean?

Kata orang, kita sudah dianggap dekat jika kita sudah bisa saling memanggil dengan kata-kata umpatan sejenis diatas..

i better be an outsider then,,

Fainting Game

udah lama pengen post tentang ini tapi gagal terus,,

hmm,,

beberapa minggu yang lalu saya baca artikel tentang meninggalnya anak di Amerika akibat bermain “fainting game” (belum berhasil menemukan istilah Indonesia.. kalo diartikan secara harfiah sih maksudnya permainan pingsan-pingsanan).

Fainting Game atau biasa juga disebut Choking Game atau pass-out game, space monkey, scarf game, space cowboy, California choke, the dream game, cloud nine, juga purple hazing adalah permainan yang cukup terkenal di kalangan anak-anak di Amerika, dimana tujuan permainan itu adalah merasakan sensasi “dying” atau sensasi orang ketika sekarat terlebih lagi hal itu dimaksudkan untuk “getting high” tanpa meminum obat-obatan. Permainan ini bermaksud memotong aliran oksigen ke otak sehingga merasakan euforia seperti yang di dapat ketika meminum obat-obatan. PARAH! karena dalam permainan itu biasanya mereka juga memakai alat bantu untuk memutuskan sejenak aliran oksigen ke otak mereka dan membuat “melayang”. Alat bantu itu antara lain ikat pinggang yang di ikat ke leher, jepitan untuk menutup hidung, dan banyak lagi yang lainnya yang dapat membuat oksigen berhenti mengalir sejenak, dan ini sudah banyak MEMAKAN KORBAN lho!

Menurut Center for Disease Control (CDC), ada sekitar lebih dari 80 kasus kematian diakibatkan oleh permainan ini pada anak-anak yang berusia 5 – 19 tahun periode 1995-2007 dan lebih banyak dialami oleh anak laki-laki, namun permainan ini sama bahayanya bagi anak perempuan dan laki-laki. Beberapa tanda yang bisa dilihat dari anak-anak yang sudah terjangkit permainan ini antara lain:

  • luka atau bekas luka di leher
  • mata merah
  • memakai pakaian yang menutupi leher walaupun cuaca panas (bukan jilbab loh maksudnya)
  • kebingungan atau disorientasi setelah ditinggal sendirian untuk beberapa saat
  • menyimpan barang-barang tidak wajar seperti tali tambang, ikat pinggang, syal, atau tali-tali untuk mountaineering
  • sering mengeluh sakit kepala bahkan dalam tingkat sangat kesakitan
  • tingkah laku yang mencurigakan, merusak, dan suasana hati yang tidak terduga
  • pendarahan di bawah kulit muka dan mata.

Walaupun permainan ini sudah banyak memakan korban, penelitian yang dilakukan belum terlalu banyak mengenai permainan ini, namun secara umum dapat disimpulkan beberapa penyebab anak-anak menggemari permainan ini, antara lain:

  • dilakukan di kelas agar dapat membolos pelajaran
  • tekanan teman sebaya, tantangan, bahkan syarat untuk bergabung dengan kelompok tertentu
  • rasa penasaran mengenai sensasi mendekati kematian
  • ketagihan atas rasa “melayang” hadir
  • prospek untuk intoksikasi tanpa mengeluarkan biaya.

sewaktu pertama kali membaca postingan tentang ini, saya kaget karena sudah begitu putus asakah manusia sehingga ingin merasakan sensasi maut dan bercanda dengan kematian? atau ini malah tanda-tanda manusia sudah semakin kreatif?

sumber2: sini dan sini

untuk mencegah bertambahnya korban dari permainan ini, tentu perhatian intensif dari orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya menjadi solusi utama dan komunikasi dua arah antara anak dan orang tua harus mampu diciptakan agar anak tidak menyimpan sendiri permasalahannya yang mengakibatkan ia mencoba mencari solusi dengan cara yang salah atau bahkan melarikan diri dari kehidupannya. Kontrol orang tua dalam kehidupan anak tentu sangat penting, tapi orang tua juga harus paham batas-batas privasi sang anak sehingga tidak malah menimbulkan sensasi terkekang pada anak yang malah berujung pada perilaku yang lebih anarkis,,

semoga post kali ini berguna,,

ada yang bisa share lebih lanjut?

😀

…aku sediiihh…

Review Jurnal Emosi

Judul : Perception of Six Basic Emotional Facial Expression by the Chinese
Penulis : Kai Wang, Rumjan Hoosain, Tatia M.C Lee, Yu Mieng, Jia Fu, Renmin Yang
Sumber : Journal of Cross Cultural Psychology Volume 17 No.6 November 2006 P. 623 – 629

Tujuan Penelitian
Untuk melihat bagaimana persepsi orang Cina terhadap foto-foto yang memperlihatkan orang dengan ekspresi yang beragam dan apakah persepsi terhadap sebuah emosi dapat di universalkan.

Metode Penelitian
Foto-foto hitam putih untuk masing-masing emosi dasar (gembira, terkejut, takut, sedih, jijik, dan marah) di blend, missal 90% gembira + 10 % sedih jadi beberapa foto. Kemudian responden di minta untuk melabel foto-foto tersebut dengan label salah satu dari 6 emosi dasar manusia tersebut. Jika responden menjawab emosi yang dominant maka dihitung sebagai “correct score”, kalau menjawab dengan emosi yang campurannya tidak dominant dihitung sebagai “adjacent errors” dan jika menjawab emosi yang tidak ada hubungannya dihitung sebagai “remote errors”.
Mempersepsikan facial emotion ini dihubungkan dengan umur, pendidikan, IQ, memory quotient, word fluency, orientasi garis, pembedaan bentuk visual, pengenalan terhadap wajah yang tidak familiar, persepsi terhadap gender, persepsi terhadap usia, persepsi terhadap arah pandangan dan famous face identity.

Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keenam emosi dasar ini cukup mudah untuk dikenali dan bahagia merupakan ekspresi yang paling mudah untuk dikenali, diikuti terkejut. Sedangkan sedih, juga termasuk ekspresi yang mudah untuk dikenali dan bersifat universal.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa persepsi terhadap ekspresi emosi tidak dipengaruhi oleh usia dari yang melakukan persepsi, kendati jangkauan usia para subyek cukup jauh.

Implikasi
Emosi sedih merupakan emosi yang universal dan cara pengekspresiannya di wajahpun akan mudah dikenali karena ke-universal-an emosi tersebut.