Emaaakkkkk

Baru aja kemarin saya baca artikel  tentang pegawai wanita yang diberhentikan karena dianggap terlalu menarik dan mengganggu kinerja para pegawai pria. Kemudian ada lagi CEO salah satu perusahaan besar yang kebetulan wanita menjadi feature pada salah satu tabloid dianggap merendahkan jabatannya karena dia berpose cantik layaknya wanita. Layaknya. Wanita. Something sounds wrong there. And then this video showed up in The Upworthy. Gender kayaknya jadi tema saya hari ini. Ditambah lagi iMess dari salah satu mahasiswa saya yang akan menyusun skripsi yang minta pendapat tentang judulnya yang gender based. Baiklah.

Semasa kuliah dulu, saya pernah mengambil mata kuliah psikologi gender, yang diampu oleh Alm. Pak Firin. Saya senang dengan pendekatan yang beliau pakai, kami diberi project untuk mempresentasikan hasil penelitian kecil-kecilan mengenai bias gender di masyarakat dan kelompok saya waktu itu mengambil teman mengenai color and gender (kalau tidak salah, maklum, ingatan saya sepanjang toge). Gender menurut saya merupakan suatu konteks yang lebih fokus pada bentukan sosial terhadap suatu jenis kelamin, bukan pada jenis kelamin itu sendiri. Konsep feminim dan maskulin adalah hal yang mendasar pada kajian psikologi gender.

Konteks sosial dari feminim dan maskulin ini terlihat jelas dalam pola asuh orang tua ke anak. Secara tidak sadar, kita sudah sangat familiar dengan konsep “ayah mencari uang, Ibu mendidik anak dirumah”. Kemudian saya jadi ingat masa kecil saya, dimana Ibu dan ayah keduanya mencari uang. Siapa yang mendidik anak? Bukan, saya bukan anak didikan ART, saya tetap anak didikan ayah dan ibu yang masing-masing sepertinya sudah sepakat memainkan peran masing-masing.

Ibu saya, seorang guru SMA, jam kerjanya cukup bisa disesuaikan dengan jam sekolah anak-anaknya, ya.. walaupun ketika saya pulang Ibu saya masih mengajar, saya jadi punya kesempatan untuk berlekas ganti baju dan main keluar rumah sampai mendekati jam Ibu saya pulang. Biasanya sekitar 5 menit menjelang beliau biasanya sampai dirumah, saya masuk kamar mandi, jadi saya tidak perlu mendengar omelan “mandi sore”. 😀 Tetapi yang paling nikmat adalah ketika saya libur, maka Ibu saya juga libur dan kami bisa berlibur kemanapun Ayah saya mendapat tugas dari kantornya. hehehee

Kemudian, ada ayah saya yang seorang ASN (ciye, bahasanya kekinian banget ya?) yang cukup berdedikasi tinggi karena walaupun kantornya didepan rumah, dia tidak curi-curi waktu pulang buat tidur siang, jadi saya hanya bertemu beliau ketika saya berangkat ke sekolah (beliau belum mandi) dan ketika beliau pulang kantor (saya mulai ngantuk).

Seperti umumnya pembagian tugas orang tua di Indonesia, Ibu saya mempunyai tugas menyuruh-nyuruh saya, mengambil raport saya, membelikan saya baju, dan mengiringi perkembangan saya dengan intens. Sementara ayah saya mempunyai tugas menyuplai dana untuk menghidupi saya, mendengarkan carita saya di setiap makan malam, menepuk-nepuk saya sampai tidur dan mendiamkan saya ketika saya nakal (benar-benar mendiamkan sampai saya merasa tidak nyaman). Ibu dipersepsikan sebagai sosok yang cerewet namun sangat menyayangi kita apa adanya sementara ayah dipersepsikan sebagai sosok pelindung keluarga yang hanya punya sedikit waktu luang untuk bermain dengan anak-anaknya.

Satu hal yang saya ingat ketika saya masih SD, saya tidak datang ke MDA (atau TPA kalau di pulau jawa) selama beberapa hari sampai kepala sekolahnya mendatangi rumah saya dan bertemu papa (panggilan saya ke ayah). Ketika ditanya alasan saya tidak hadir, papa menjawab dengan santainya “iya, mamanya sedang kunjungan keluar kota, jadi nggak ada yang ngomelin dia kalo siang” dan alasan itu diterima dengan lancar oleh sang kepala sekolah. Alasannya sangat bias gender bukan? Dan ketika mama (panggilan untuk ibu saya) pulang dan saya ceritakan itu pada sesi makan malam kami, mama cuma ketawa terbahak-bahak. Yang jelas sih, dengan alasan itu, saya tidak dipanggil keruang kepala sekolah untuk dinasehati berjam-jam oleh Pak Kepala Sekolah seperti teman saya yang menurut Ayahnya tidak datang karena malas. 😀 (Makasih ya pa, atas alasannya yang silly tapi manjur, thanks for the protection)

Jadi, dalam pengalaman saya, Mama berperan sebagai orang yang penuh kasih dan papa berperan sebagai pelindung yang tidak selalu terlihat dapat mengekspresikan kasih sayangnya secara eksplisit.

….dan semua itu berubah ketika mama meninggalkan kami. Papa langsung kewalahan untuk mengambil peran 2 orang sekaligus, tetapi menurut saya beliau tetap sukses menjadi orang tua yang baik, walaupun selalu harus bertukar-tukar peran.. I love you Pa, kami rindu dirimu, emaaakkkkk…

Katakan #JANGAN ?

Mudik lebaran kemarin, yang menjadi highlight saya adalah babies! Rasanya pekanbaru sedang dipenuhi dengan bayi-bayi, baik yang baru lahir sampe yang udah satu tahunan. Dimulai dari ponakan lucu, cerewet dan tak bisa diam sampai anaknya sahabat saya yang pendiam tapi suka joged sendiri, ada lagi ponakan cowok yang mendadak jadi cengeng sekali ketemu orang ramai terus ada pula yang baru lahir, tetapi rambutnya sudah sangat gondrong… 😆

Interaksi dengan bayi-bayi itu susah-susah gampang, gampang karena mereka masih polos, bagai kertas putih yang terserah kita mau menulis apa disana. susah karena mereka belum bisa diajak komunikasi dengan baik, karena kemampuan mereka di bidang kognitif belum maksimal, perkembangan bahasa dan penalaran mereka masih di tahap yang awal sekali. Gampang-gampang susah, namun sangat menyenangkan dan membuat saya tidak niat balik ke Jakarta lagi… *modus* hehehe

Kembali ke perkembangan bahasa, saya akan menyoroti ponakan saya yang berumur 18 bulan, alias 1,6 tahun. Makhluk lucu dan menggemaskan ini biasa di panggil zhazha dan kini sudah memiliki kosa kata yang cukup banyak sehingga dapat dikategorikan bayi cerewat serta sangat aktif sehingga sebanyak apapun dia makan, tampaknya dia akan tetap selangsing itu karena dia sangat tidak bisa diam. Berinteraksi dengan zhazha sekarang cukup menyenangkan karena dia sudah mulai bisa diajak berkomunikasi verbal. Kosakata yang dia gunakan sudah mulai sesuai dengan konteksnya, walaupun masih banyak kosakata yang dia pakai tanpa dia ketahui maksudnya. Contohnya adalah ketika menjelang lebaran, mama zhazha ingin zhazha fitting baju agar bisa di adjust dengan badannya sekarang, ada satu baju yang berwarna pink, yang mamazhazha tunjuk dan bilang pink. Zhazha memperhatikan saja, namun setelah itu dia selalu menunjuk baju-bajunya sambil berkata mpink, padahal sebelumnya dia sudah bisa bilang baju, mungkin dalam pikirannya mping juga berarti baju.

Kemudian saya ingat seorang dosen saya, mata kuliah perkembangan anak, pernah mengatakan sebaiknya tidak berkata “jangan” kepada anak-anak, lebih baik ganti dengan kata yang lebih spesifik seperti mengganti “jangan duduk di sana” dengan “berdisi di sini saja” karena anak-anak lebih mudah memahami kata-kata dengan arti yang jelas dibandingkan dengan kata “jangan” yang konsepnya masih abstrak. Saya mencoba bereksperimen dengan zhazha, ketika dia sedang berdiri, saya bilang “jangan duduk”, dia malah berkata “dodok” dan langsung duduk di lantai, kemudian saya bilang “jangan berdiri” dia langsung menyambut dengan berdiri tegak. Saya coba mengganti kata dengan “nah gitu ya, berdiri ya” dia langsung menjawab dengan “ya” dan tetap berdiri. Dari kejadian itu saya paham dengan yang dijelaskan oleh dosen saya, kemudian saya mencoba mencari artikel mengenai hal tersebut, ternyata banyak yang mengatakan bahwa kata “jangan” itu tidak boleh diucapkan ke anak, karena sebaiknya kita tidak berbicara dengan kata negatif ke anak, karena anak akan menangkap efek negatifnya tetapi kemudian saya menemukan satu artiket yang tidak setuju dengan hal itu sampai memberikan statement bahwa di Al-Quran saja, kata jangan banyak digunakan dan kita harus mengajarkan anak bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dilanggar, entah kenapa, saya kurang setuju di beberapa bagian dengan artiket tersebut.

Larangan menggunakan kata jangan menurut saya adalah baik, selama sang anak masih di bawah usia 24 bulan karena perkembangan bahasanya belum sempurna dan jangan tidak memiliki arti yang jelas, beda dengan “tidak” dimana anak sudah mengerti arti “tidak” adalah sesuatu yang melarang, atau sebaiknya tidak mereka lakukan, walaupun pada kenyataannya, kata “tidak”pun bagi mereka terkadang masih buram maknanya. berbicara dengan anak-anak lebih mudah jika kita menggunakan kata yang memiliki makna kongkrit (bisa diterjemahkan dengan bentuk kegiatan atau dalam bentuk nama barang). Jika kita ingin mengajarkan kepada anak bahwa ada hal-hal yang namanya baik-buruk, anjuran-larangan, lakukan ketika masa perkembangan kognitif anak tersebut sudah cukup untuk memahami, diatas 2 tahun, dan itu pun harus tetap dilakukan dengan situasi yang positif, bukan untuk menakut-nakuti mereka, tetapi untuk membuat mereka paham bahwa di dunia ini tidak semua harus berjalan sesuai keinginan mereka saja, ada aturan main dan ada yang namanya “reward-punishment”. Hal yang senantiasa harus diingat adalah, agama itu untuk membuat hidup kita lebih teratur dan nyaman, bukan untuk menakut-nakuti kita, jangan sampai kita menurunkan ke anak kita rasa takut yang tidak pada tempatnya, dan satu lagi, manusia itu individu unik yang memerlukan pendekatan yang berbeda, begitu juga anak, mereka masing-masing mempunyai range perkembangan yang berbeda-beda. Sekian.

Implicit Memory Vs Explicit Memory

I’ve made a fatal mistake last night, I forgot to switch off the stove but luckily one of my friends was there to turn it off before something worse happen. I guess it was not the first time I’ve made similar mistake, but it was the worst one. I began to think what is wrong with me? Why is it very hard for me to follow a procedural process? I always forgot to close a drawer, I rarely put something back to its place after I have finished using it, I often missed one action during performing procedural actions. While I have problem in performing procedural actions, I can remember an event clearly, I could recall almost the exact things happened in that event, I could memorize a person, even their full name and since I love to read, I could also remember the facts that I have read just fine.

So, What is happening with me? After the tragedy last night, I dig my neuropsychology books and skimming the memory section. I found out that there might be something wrong with my implicit memory, not an impairment, maybe my explicit memory is slightly better then my implicit memory.

What Is these Implicit memory and Explicit memories?

Continue reading

Playing the victim game

“Homo homini lupus”

-Plautus

We know some people who always behave like they are the victim. They never admit that they do something wrong, moreover, they blame someone for what happen in their life. People who always put their blame in others is doing something that we call playing the victim game or self-victimization syndrome.

“Why should I apologize to her if i’ve never done something wrong?” Those are the simple sentence that will lead a person to play the victim game. Should I remind us that we are a social creatures? We don’t live alone in this world, everything that we’ve done is effecting others life as well as effecting ours. I guess it will not harm you if you apologize to someone that you truly feel that something has changed between you two. If you want other to feel respect at you, you have to gain it yourself. Confront your guilt feeling, ask directly to the person who changed their behavior towards you. Be gentle, and you will save your pride.

Self-victimization syndrome is a syndrome where one feels and acts like a victim all the time. If someone acted like this person has done something wrong to him/her, person with this syndrome will try to convince other that they are guilt-free, they had done nothing wrong, moreover this person will act as if the person that hurt is the one who’s hurting them. Usually, a person with this syndrome will try to act like nothing happen, and will tell others that other people is avoiding him/her.

I know that when we tell stories of what happen in our life, we need to be in the spotlight. We always want to be in the good side, but if we hurt other in the process, it will end very bad. We have to choose what we say to others or we will hurt someone by what we’ve told, conscious or unconscious.

The next passage is quoted from here

To reiterate the underlying dynamics of this problem, I explained that many people adopt the victim role, albeit unintentionally, because they are afraid of their anger, deny its existence in themselves, project it onto other people, and anticipate aggression or harm from them. With this expectation and a high sensitivity to anger in others, they may even distort other people’s facial expressions, imagining that they have malicious intentions. The anger that they would have experienced in response to frustration or stress is transformed into fear and distrust of others and into feelings of being hurt or wounded.

and this one is taken from here

Even in the most extreme situation, such as a concentration camp, feeling victimized is not adaptive: Feeling your anger, planning an escape, attempting to survive any and all of these courses of action are preferable to indulging powerless, victimized feelings. Your attitude is a vital factor in determining whether you will survive or perish, succeed or fail in life. Viktor Frankl contended that many of the survivors of German concentration camps were able to endure because they refused to give in to feeling victimized. Instead, although stripped of all their rights and possessions, they used one remaining freedom to sustain their spirit; the freedom to choose what attitude or position they would take in relation to the horror they faced. “It was the freedom to bear oneself ‘this way or that,’ and there was a ‘this or that.'” (Frankl, 1954/1967, p. 94)

Feeling victimized is never a productive act. Even in the most depressing moment in your life, you should find something to change the situation. If we notice that something is changed from our dear friend, ask them directly. If we feel angry to a certain person of what they’ve done to us, find a way to tell them nicely. Never make a statement like “They isolate me, they don’t want me there, they hate me” but instead, ask to yourself, do they really isolate me or I make an isolation by my self? It could be that you are the one avoiding them, and you choose to believe that they hate you. Something is better spoken than hidden, dear. Please end playing the victim, now is the time for us to face the reality, bridging the problem by start apologizing!

Source :

1. –. Self-Victimization – “Playing the Victim” retrieved from http://outofthefog.net/CommonBehaviors/SelfVictimization.html (12 June 2013)

2. Firestone, Robert W, Ph.D. 2009. Don’t Play the Victim Game. retrieved from http://www.psychologytoday.com/blog/the-human-experience/200909/dont-play-the-victim-game (12 June 2013)

3. Firestone, Robert W, Ph.D. 2013. How to Stop Playing the Victim Game. retrieved from http://www.psychologytoday.com/blog/the-human-experience/201304/how-stop-playing-the-victim-game (12 June 2013)

4. Kets de Vries, Manfred. 2012. Are You the Victim of the Victim Syndrome?. 2012. retrieved from http://www.insead.edu/facultyresearch/research/doc.cfm?did=50114 (12 June 2013)

Memory of you

Beberapa hari yang lalu, sepupu saya cerita bahwa beliau mimpi seram dengan saya sebagai tokohnya, kemudian Ibu juga cerita kalau saya melakukan sesuatu di mimpinya yang membuat beliau merasa takut itu menjadi kenyataan. Saya memilih untuk tidak menanyakan detil kejadian yang terjadi dalam mimpi sepupu saya karena saya akui saya takut itu malah membayang-bayangi saya dan saya meyakinkan ibu bahwa mimpi itu hanya bunga tidur saja. Saya mengatakan demikian sebenarnya juga untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa mimpi-mimpi itu tidak lebih dari manifestasi ketakutan sang pemimpi, bukan merupakan tanda-tanda kejadian kepada sang tokoh dalam mimpi.

Kemudian tadi pagi, saya terbangun dari mimpi yang menurut saya janggal, janggal karena saya tidak begitu sering bermimpi dan jika saya bermimpi, maka biasanya saya hanya ingat garis besar mimpi itu saja, namun mimpi tadi malam masih bisa saya ingat dengan jelas detil kejadiannya hingga saat ini, dan saya akui, ketika saya bangun tadi pagi, perasaan saya berkecamuk tak menentu karena kejadian dalam mimpi saya tersebut dan tokoh utamanya yang sudah lama tidak muncul dalam pikiran saya.

Sebagai seorang penggemar Jung walau belum bisa disebut sebagai jungian, saya langsung mengingat lagi apa yang dikatakan Jung mengenai mimpi. Mimpi menurut Jung berbeda dengan mimpi menurut Freud bahwa mimpi adalah manifestasi langsung dari alam bawah sadar kita yang biasanya identik dengan hal-hal yang kita hindari dan kita paksa masuk ke alam bawah sadar agar tidak mengganggu kesadaran kita. Mimpi menurut Jung lebih bermakna simbolik dimana merupakan jendela untuk mengintip alam bawah sadar kita, bukan murni adalah apa yang menjadi ketakutan kita. Lebih lanjut Jung mengatakan bahwa mimpi memiliki simbol-simbol yang merepresentasikan diri kita dan kejadian disekitar kita, dan cara kita memahami mimpi sangat bergantung pada pemahaman kita terhadap simbol-simbol yang kita temukan dalam mimpi itu, sehingga tidak ada pemahaman yang salah dalam “coping” dengan mimpi.

Kejadian dalam mimpi saya membuat saya teringat beberapa hal yang saya mulai lupakan beberapa waktu belakangan ini, mungkin ini adalah perpanjangan tangan dari alam bawah sadar saya yang ingin mengingatkan saya mengenai hal yang luput dari hidup saya agar saya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Seperti menurut Jung, mimpi dapat menjadi jendela untuk membantu kita memahami apa yang terjadi kini dan membuat kita menyadari kesalahan kita selama ini dan menjadi solusi agar kita teringat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Belakangan ini, saya mengalami banyak kekecewaan, merasa bahwa orang-orang yang saya sayangi, yang saya anggap sahabat saya sepertinya hanya mengingat saya ketika dia butuh dan tidak dengan tulus menyayangi saya. Saya mengalami masa kekecewaan yang dalam dan membuat saya benar-benar takut untuk menaruh harapan lagi dan lebih banyak meluangkan waktu untuk diri saya. Lalu terjadilah mimpi tadi malam, dimana tokohnya adalah seseorang dari masa lalu saya yang setelah saya renungkan, sebenarnya seseorang yang sangat berarti bagi saya, tetapi saya terlalu takut untuk mengakuinya dan terlalu takut membiarkan ia terlalu dalam masuk ke dalam kehidupan saya karena takut dia menemukan “saya” yang tidak sesuai dengan gambarannya.

Perenungan dan pemutaran kejadian-kejadian yang lalu membuat saya terhenyak bahwa saya benar-benar menjadi orang yang jahat padanya, walaupun mungkin dia tidak merasa demikian, namun saya rasa saya benar-benar sudah sangat jahat. Sepertinya apa yang saya lakukan kepadanya adalah apa yang saya terima dari sahabat saya yang menurut saya sudah mengecewakan saya.

Dia dulu sepertinya selalu ada ketika saya memerlukannya, bahkan walaupun saya hanya memerlukannya untuk jadi bahan hinaan saya, atau hanya untuk bertukar cerita absurd, tapi dia selalu ada. Lalu apa yang saya lakukan kepadanya? saya tidak berusaha mendekatkan diri, saya tidak berusaha bertanya mengenai apa yang terjadi dalam kehidupannya, apa yang menjadi impiannya, apa yang menjadi ketakutannya, saya hanya mengingat dia ketika saya membutuhkannya. Kini saya sadari memang saya sudah menjadi orang yang sangat kejam, saya mungkin memang pantas diperlakukan seperti sekarang oleh orang lain.

Entah bagaimana saya bisa menjelaskan bahwa seseorang dari masa lampau ini sangat berarti bagi saya, walaupun mungkin dia tidak menyadarinya karena bahkan saya baru menyadarinya hari ini. Saya baru menyadari bahwa ketakutan sayalah yang membuat saya tidak memberikan ruang bagi dia dalam diri saya, ketakutan saya akan “saya”lah yang menyingkirkan dia hingga undangan dia untuk hadir pada hari istimewanya juga tidak bisa saya penuhi, padahal dia sudah mengundang saya dengan khusus. Entahlah, kini saya hanya dipenuhi penyesalan dan kelegaan.

Saya menyesal tidak pernah memberikan dia perhatian yang layak, padahal dia salah satu sahabat terbaik saya yang mengerti saya dan tidak pernah mengecewakan saya tetapi saya juga lega karena kini dia sudah merajut kebahagiaan hidupnya, very happy indeed and even I know it hurts but I’m happy for you.. 🙂 I’m really happy for you. Please send my regard to your special one, maaf belum sempat berkenalan dengannya.. Please accept my sincere apology for all the harm i’ve done to you and for not coming to your special day. I know you deserve this happiness..

am I seem desperate enough?

-darkjasm-

 

mumbling #2

 Go up close to your friend, but do not go over to him! We should also respect the enemy in our friend.

-Friedrich Nietzsche

I don’t know what I want to state in this post. Been through harsh time recently and just couldn’t find  the perfect words to describe what i’ve been through in my hearts. I just thought that I had to write something just to keep my sanity intact.

Sangat sulit memang kalo kita merasa bertepuk sebelah tangan dalam sebuah hubungan, when we trully love someone and turns out that this person didn’t feel the same way as we feel. That is a heartbreaking feeling, in and out. Perasaan bertepuk sebelah tangan tidak selamanya hanya dalam masalah percintaan, bisa juga ketika orang tua mencintai anaknya yang malah membencinya and vice versa, moreover it could happen in a Friendship.

Menjalin sebuah hubungan melibatkan banyak hal yang sangat kompleks seperti berbagai macam perasaan, komitmen dan pastinya kepentingan. Seseorang menjalin hubungan karena ada kepentingan yang ingin dia penuhi, ada kebutuhan yang ingin dia puaskan, ada dorongan yang ingin dia lepaskan, tepi kemudian hubungan itu berlandas hanya sebuah dorongan sebelah pihak atau adanya balasan dari pihak yang lain, itu tergantung manusia yang terlibat di dalamnya.

Saya pernah merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan sebelumnya. Hurt, indeed but not as hurt as this wound. Luka kali ini karena perasaan yang bertepuk sebelah tangan sangat menyakitkan, mungkin karena saya sangat percaya pada hubungan ini sehingga saya  mengikatkan terlalu banyak harapan di sana. Harapan yang melambung kata orang membuat lebih sakit ketika jatuh, dan benar saja, saya hanya bisa memasang tampang baik-baik saja sementara dalam hati yah.. hanya saya yang tahu betapa perihnya.

Mungkin ini hanya perasaan saya yang menjadi sangat sensitif, but I feel humiliated by this broken relationship. So humiliated that I could even think that I just someone who has no value in other’s heart, they just come to me when they need me, nothing else, nothing more. I feel so broken inside.

For you, Thank you for teaching me that I could trust no people.

For you, Thank you for not care about me as much as I care about you, but I do still care about you, coz I know that one day you’ll realize that you need other people and one day you’ll admit that you’ve treated people so bad before because you just feel so arrogant that you think you will never need the other. One day, for sure, you’ll understand how much you’ve hurt me.

Thank you.

or should I make an apology to you?

saya rasa bisa saja saya lah yang salah dalam segala hal sehingga anda tidak bisa membalas perasaan saya, mungkin saya sudah terlalu lancang mencampuri banyak urusan anda, saya sudah terlalu sering membuat anda merasa terganggu, atau mungkin apa yang menurut saya perhatian ternyata adalah hal yang anda benci, tidak anda butuhkan? atau memang saya saja yang salah dengan menjadi saya. Atau saya sudah melanggar apa yang dikatakan Nietzsche?

I’m sorry, please accept my apology

I don’t know what is happening here if you keep shutting your mind. I could pretend that anything is just alright between us, I could lie to other people, but could I lie to my self? I don’t know what I need to do if you don’t tell me.

I just need the truth in your answer.

From Darkjasm;

To whom it may concerns.

Empati, Toleransi dan Ketidakpedulian

Empati, selama saya belajar ilmu psikologi selalu diartikan sebagai suatu kondisi dimana kita bisa merasakan perasaan orang lain dan bisa menempatkan diri kita pada posisi orang tersebut. Toleransi adalah bagaimana kita bisa saling menghormati hak dan kewajiban orang lain sehingga tidak saling membenturkan hak tiap-tiap individu sedangkan ketidakpedulian adalah bagaimana kita membiarkan saja seseorang melakukan sesuatu yang cenderung bisa merusak dirinya sendiri dan orang lain. Itu adalah sekelebat pemahaman saya mengenai makna 3 kata yang menjadi judul tulisan ini. Ini bukan tulisan ilmiah yang punya banyak referensi, ini hanya tulisan yang saya tulis berdasarkan keprihatinan saya saja, jika ada yang tidak sependapat dengan saya, yuk mari kita diskusi.. 🙂

*loh? tulisannya tentang apa juga belum keliatan yak? hehehe

Baiklah..

Menurut saya, perbedaan empati dan toleransi yang berkonotasi positif dengan ketidakpedulian yang berkonotasi negatif dari hari ke hari semakin tipis dan pemeliharan empati dan toleransi bisa mendorong pesatnya pertumbuhan ketidakpedulian. Bayangkan anda sebagai saya yang berasal dari kampung, kuno dan kolot menghadapi dunia pergaulan di Jakarta, yang tidak usah saya jelaskan pasti banyak yang paham deh betapa unik, kompleks dan menggiurkannya proses “gaul” di Ibu Kota ini.

Satu hal yang paling penting dimanapun kita berada adalah bagaimana kita bisa menghargai hak asasi manusia, itu bagian dari toleransi, katakan saja, apa yang dilakukan seseorang dalam hidup adalah murni hak asasi dia yang harus kita hargai, kita harus menghormatinya. Contoh ekstrim adalah saya sebagai seorang muslim mempunyai sahabat yang juga muslim, ada juga yang katolik, budha, hindu, dan protestan. Melakukan ibadah adalah hak asasi manusia, jadi saya harus menghargai apapun agama seseorang, saya harus mentoleransi ritual keagamaan mereka, itu saya sangat paham, namun ketika dia jelas-jelas menyatakan dia beragama, namun dia tidak menghormati agama dan kepercayaannya sendiri (baca: nggak shalat, nggak kebaktian, dll) kita sekarang juga dituntut untuk mentoleransi hal itu dengan alasan itu adalah proses pemaknaan dan hasil dari proses kognitif masing-masing orang. Toleransi, itulah kata yang memungkinkan kita untuk tidak melakukan sesuatu agar teman kita tersebut kembali melakukan ibadahnya, namun hal ini bagi saya adalah ketidakpedulian yang terselubung, karena dengan mentoleransi keingkaran mereka berarti kita juga sebenarnya membiarkan ia jatuh kedalam lubang kelalaian yang mungkin awalnya hanya lalai ibadah, tapi jika dibiarkan hatinya membeku, maka mungkin akan berakhir dengan lalai-lalai lainnya. Saya percaya bahwa jika seseorang memilih kepercayaan tertentu, terpaksa karena orang lain, keturunan ataupun karena keinginan diri sendiri mereka tanpa sadar menandatangani kontrak mental yang mempengaruhi alam bawah sadar (yes, so fruedian! :p) yang jika mereka tidak memupuk dengan ibadah, ada perasaan kosong dalam benak mereka (bukti ilmiah? kan udah saya bilang kalo ini hanya cerocos saya aja).

Itu tadi contoh ketidakpedulian berkedok toleransi, bagaimana dengan empati? ada satu hal yang sering mengganggu saya karena saya juga sering menjadi pelakunya. Misal : Ketika seseorang sedang menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan yang dia harapkan, dia mengalami stres dan bisa menjadi depresi. Ketika orang depresi, manifestasinya bisa macam-macam. Bagi yang di diagnosa mengalami gangguan depresi mungkin akan mudah dibantu, tapi bagi yang hanya depresi ringan, banyak yang kemudian hanya mencari pelarian, mungkin tidak ekstrim ke alkohol atau obat-obatan, tapi bisa saja makan yang banyak atau bertingkah sesukanya. Sebagai seseorang yang mempunyai empati, kita bisa merasakan apa yang dia rasakan, kita bisa membayangkan apa yang kita rasakan jika kita berada di posisinya, sehingga kita menjadi permisif “ah, nggak papa, kasian dia masih shock”, “ah biarlah sementara dia masih terguncang” dan ah-ah yang lainnya. Mungkin awalnya pembiaran kita ini dianggap wajar dan membantu dia, tapi sebenarnya dengan kita membiarkan, orang tersebut malah menanamkan dalam pikiran dia bahwa apa yang dilakukannya itu benar dan bisa menjadikan kebiasaan dan pola pikir dia terhadap hal yang salah bisa berubah. *Loh? kan ntar kalo dia udah agak redaan bisa kita bantu kembali kejalan yang benar? bisa sih, tapi yakin nggak, ketika kita membantunya itu belum terlambat?

Dua contoh situasi diatas menurut saya bisa menggambarkan bagaimana itikad baik kita tak selamanya menghasilkan yang baik, bisa saja toleransi dan empati yang kita rasakan kepada seseorang sebenarnya adalah kemalasan kita untuk membantu, ketidakpedulian kita yang dipoles menjadi suatu perasaan yang dimafhumkan… in my opinion.. :’)

ciao!

-darkjasm-

Posttraumatic Stress Disorder Pada Korban Tindakan Terorisme*

Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) adalah gangguan yang memunculkan respon ekstrim pada stressor yang kuat, mencakup meningkatnya kecemasan, menghindari stimulus yang berhubungan dengan trauma dan meningkatnya ketegangan dalam diri seseorang (Kring, Johnson, Davison & Neale, 2011). Lebih lanjut dijelaskan oleh Kring, Johnson, Davison dan Neale (2011) diagnosa PTSD ini hanya diberikan kepada orang-orang yang mengalami atau menyaksikan kejadian yang berhubungan erat dengan kematian, luka-luka serius, atau kekerasaan seksual.

Terorisme menurut Poul Johnson (2008 dalam Hendropriyono, 2009) adalah pembunuhan dengan sengaja yang direncanakan secara sistematik, sehingga mengakibatkan cacat dan merenggut atau mengancam jiwa orang yang tidak bersalah, sehingga menimbulkan ketakutan umum, semata-mata demi mencapai tujuan politik. Penjelasan mengenai pengertian terorisme memberikan gambaran bahwa orang-orang yang menjadi korban dari sebuah tindakan terorisme dapat mengalami PTSD.

Continue reading

Anak-anak masa kini..

Seorang anak adalah mutiara bagi orang tuanya, walaupun kini banyak kenyataan bahwa orang tua malah menelantarkan anaknya, entah itu karena mereka merasa tidak sanggup membiayai sang anak atau malah karena mereka merasa sang anak cukup digelimangkan dengan harta sehingga tak perlu lagi kasih sayang dari mereka.

Miris. Itulah yang sering saya rasakan belakangan ini, melihat kehidupan tak lagi menjadi tempat yang ramah bagi anak-anak. Bukan, saya bukan akan menulis mengenai lingkungan yang sangat penuh dengan polusi dan tidak lagi sehat atau kurangnya lapangan untuk anak bermain dan berkumpul, saya akan bercerita mengenai bagaimana tuntutan kemajuan zaman membuat lingkungan yang secara fisik sudah tak layak kini juga tak layak secara psikis bagi anak-anak.

Materialistis. Itulah jenis kehidupan yang sedang kita jalani kini, dimana mengakui atau tidak, banyak orang yang mengukur kebahagiaan dari seberapa besar kemampuan finansial mereka mampu memenuhi kebutuhan sangat tersier dan kini semakin parah karena ditunjang dengan kemajuan teknologi yang pesat sehingga banyak alat penunjang kehidupan yang canggih dan menggiurkan. Kebutuhan untuk memiliki barang-barang tersier tersebut kadang terasa lebih mendesak daripada pemenuhan kebutuhan primer.

Well, seharusnya hal itu menjadi hal yang dipikirkan oleh orang dewasa bukan? Fancy and big house, lux condo, sport car, newest gadget, and others expensive things are suppose to be a grown up’s matters, not children’s. absolutely not theirs. Sesuai dengan tugas perkembangan masa kanak-kanak, mereka sedang berada dalam tahap mengeksplor kemampuan belajar mereka memalui permainan dan berinteraksi dengan orang lain. Orang terdekat anak-anak yang menjadi role model dan membentuk mereka adalah orang tua atau sosok pengganti orang tua, bagaimana pola asuh yang mereka terima akan membentuk skema berpikir mereka dan kecenderungan kepribadian mereka, dan mereka masih percaya seratus persen kepada orang dewasa yang mengasuhnya.

Hal itulah yang kemudian membuat saya berani mengatakan bahwa lingkungan masa kini tidak sehat secara psikis bagi anak-anak. Orang tua yang terlalu sibuk mengejar harta tanpa sadar mengajarkan kepada anak bahwa mereka bahagia jika bergelimang harta, mereka tidak butuh berbagi kasih sayang, kebahagian mereka menjadi bergantung pada barang-barang yang mereka punya, belum lagi pola asuh yang tak sehat yang membandingkan keadaan finansial sang anak dengan anak yang lain dan membuat seolah anak tersebut kurang bahagia dari temannya karena rumahnya lebih kecil, karena mobilnya lebih jelek, bahkan akan menjadi sangat buruk jika “kebahagian artifisial” itu diajarkan sang ibu yang paling dekat dengan mereka untuk menteror sang ayah yang pasti sangat ingin membahagiakan anaknya. Kemudian ada lagi anak yang lebih sering menghabiskan waktu bersama baby sitter atau pengasuh mereka, yang sekarang kebanyakan masih muda dan belum berpengalaman menjadi orang tua, mereka tidak sadar bahwa mereka menjadi role model bagi sang anak, mereka tidak sadar bahwa sang anak meniru dan mengingat apa yang mereka lakukan untuk kemudian menjadi tingkah laku mereka.

Ada juga anak yang dijadikan alat bagi orang tuanya untuk mencari penghasilan, seperti banyak yang kita temukan dijalan, bagaimana rasa iba orang lain menjadi suatu hal yang sangat pas sebagai ladang uang. Masa kecil yang dijalani di jalanan membuat anak-anak menyaksikan banyak hal yang belum sesuai dengan usia mereka, belum mampu mereka cerna dengan pikiran mereka yang masih berkembang, ini yang kemudian membuat istilah “dewasa sebelum waktunya” muncul.

Anak-anak, mungkin kini masanya sudah jauh berbeda dari masa saya kecil dulu, dimana makan malam bersama mama dan papa sudah merupakan hal yang membahagiakan, walau rumah kami tak besar, main di lapangan kecamatan sampai baju kotor dan pulang sore menjadi hal yang sangat berkesan, luka-luka akibat jatuh dari pohon menjadi hal yang manis untuk dikenang. Ya, masa itu tampaknya mulai berlalu, kini anak-anak lebih bahagia jika di bisa seharian dirumahnya yang besar dengan berbagai alat permaianan canggih dan gadget lainnya, lebih bahagia jika mereka bisa tampak lebih dari temannya.

Benarkah seorang anak akan lebih bahagia jika dari kejauhan dia melihat rumahnya besar seperti rumah teman-temannya atau itu hanya ide yang ditanamkan oleh sang ibu pada anaknya?

Bahagia itu sangat relatif, sungguh…

Life Learning

Image

 

Human is a social creature. This sentence is told to us since our early life. It suppose to teach us how to deal with others and how to respect others, because we can never live alone.

I began to think how others can influence me, then I come to a conclusion that it does affect me in every part of my life.

I learn how to be a discipline and hard working person from my father, although I miss the “wake up in early morning” lesson.

I learn how to love, care and give unconditional regards from my mother, although I miss the “not want something in return” lesson.

I learn how to be firm from my sister, but I guess i missed the “assertive” class.

I learn how to deal with loneliness from my friends, but I guess i missed the “independent” class.

Many things we have learn and missed in our life, it is our choice what we would give them in return.

So, what you have learn from and teach to other?